File 20170818 28123 oysjx6.jpg?ixlib=rb 1.1

Teknologi digital berpotensi memicu revolusi sains dalam penelitian sosial

Pada akhirnya, dengan penelitian sosial berbasis internet, ilmuwan akan dapat memahami manusia lebih dari manusia tersebut memahami diri mereka sendiri. Montri Nipitvittaya/www.shutterstock.com

Teknologi digital berpotensi memicu revolusi sains dalam penelitian sosial

Melalui alat-alat seperti teleskop dan mikroskop, manusia telah berhasil mempelajari organisme dan dunia fisik di sekitar mereka.

Namun, meski telah lama kita mempelajari perilaku manusia dan masyarakat, kita tidak memiliki alat sehebat teleskop atau mikroskop untuk mengamati pola perilaku manusia.

Sekarang, teknologi digital dan kemampuannya memproses data yang dihasilkan manusia dalam jumlah besar dapat menjadi alat penelitian sosial yang perkasa.

Internet mirip dengan teleskop dalam kemampuannya memungkinkan kita mengamati sesuatu dengan cara yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Dengan teknologi digital, ilmuwan dapat mengamati sikap dan perilaku sejumlah besar manusia. Teknologi digital memungkinkan pengamatan dan percobaan dalam skala raksasa.

Pengumpulan Big Data dan kemampuan untuk melakukan percobaan sosial menggunakan internet bisa menjadi awal revolusi sains dalam penelitian sosial. Namun ada pertimbangan-pertimbangan etis yang juga perlu diperhatikan.

Bagaimana revolusi sains terjadi

Revolusi sains selalu dimulai dengan penemuan alat baru.

Instrumen Tycho Brahe untuk mengukur lintang dan bujur objek-objek luar angkasa. Wikimedia Commons/Tycho Brahe [Public domain]

Contohnya, lima ratus tahun yang lalu sesudah penemuan teleskop, bangsawan Denmark Tycho Brahe menggunakannya untuk mengamati objek-objek luar angkasa.

Ia mengumpulkan data lokasi planet-planet. Meski tak paham arti dari data yang ia kumpulkan, ia terus menghimpunnya.

Data yang Brahe kumpulkan menjadi dasar penghitungan ahli matematika Johannes Keppler. Ia menemukan pola dari data yang Brahe himpun dan menemukan bahwa planet bergerak dalam bentuk elips.

Seratus tahun kemudian, Isaac Newton menemukan rumus teori gravitasi yang memicu revolusi dalam memahami cara alam bekerja. Dengan memahami gravitasi kita tidak saja memahami pergerakan planet dan bintang, tapi manusia juga berhasil menciptakan teknologi seperti satelit, perjalanan luar angkasa, dan Global Positioning System (GPS).

Dari kisah itu kita dapat melihat bahwa kemajuan dalam bidang sains berawal murni dari pengumpulan data yang dimungkinkan oleh penemuan alat pengamatan baru. Ahli matematika menemukan pola dari data yang ada, menghasilkan teori-teori dan merevolusi pemahaman kita mengenai alam semesta.

Begitu juga dengan ahli biologi, mereka melihat ke bawah mikroskop dan melihat mikroorganisme, sel dan benda-benda kecil lainnya yang membentuk kehidupan. Ini membawa kita ke dobrakan-dobrakan di sains tentang kehidupan, dari penemuan penyembuhan beragam penyakit sampai penyuntingan gen.

Tantangan dalam penelitian sosial

Berbeda dari ilmuwan yang mempelajari ilmu alam atau ilmu pasti, ilmuwan sosial menemui masalah mendasar dalam menguji dan mengeksplorasi teori-teori baru.

Metode ilmiah untuk melakukan penelitian adalah pengamatan dan percobaan. Ahli fisika tentu tidak mewawancarai elektron-elektron yang mereka teliti. Ahli biologi tidak mewawancarai DNA. Hanya ilmuwan sosial yang harus mengajukan pertanyaan pada subjek penelitian mereka.

Ini tidak berarti bahwa dalam penelitian sosial tak dilakukan percobaan dan pengamatan skala besar dalam penelitian sosial. Mereka ada tapi sangat terbatas. Metode yang umum digunakan untuk penelitian sosial kuantitatif adalah menggunakan survei.

Ahli fisika tidak mewawancarai elektron-elektron, ahli biologi tidak mewawancarai DNA. Hanya ilmuwan sosial yang harus mengajukan pertanyaan pada subjek penelitian mereka. Dragon Images/www.shutterstock.com

Masalah yang jelas-jelas dihadapi ilmuwan ketika meneliti menggunakan survei adalah lemahnya ingatan orang-orang mengenai perilaku atau sikap mereka sendiri. Contohnya, seseorang mungkin akan memberikan kisaran angka yang besar ketika ditanya berapa kali mereka mengecek telepon selular mereka dalam sehari. Terlebih, meski jarang terjadi, ada insentif bagi orang untuk berbohong.

Teknologi digital dapat merevolusi penelitian sosial

Teknologi digital dapat merekam perilaku dan sikap manusia. Telepon dengan teknologi GPS mencatat data pergerakan kita. Bank dan perusahaan kartu kredit merekam pola pengeluaran kita. Dan media sosial menangkap perasaan dan pemikiran kita.

Kita kadang tidak perlu lagi bertanya pada orang-orang, kita hanya perlu mengamati perilaku daring mereka.

Dalam penelitian sosial, percobaan sulit dilakukan karena membutuhkan kelompok pengendali untuk dibandingkan dengan subjek-subjek yang diujicoba, dan sangat sulit untuk memastikan lingkungan pengendali. Peneliti sosial tidak dapat menciptakan kondisi-kondisi kehidupan sosial yang berbeda karena kita tidak dapat menciptakan dunia-dunia paralel.

Menggunakan internet, kita dapat mengendalikan lingkungan digital. internet menyediakan peluang bagi ilmuwan untuk melakukan eksperimentasi

Potensi penelitian

Salah satu area studi yang menjanjikan dengan adanya eksperimentasi berbasis web yaitu mempelajari bagaimana interaksi antarindividu menciptakan perilaku kolektif. Ahli sosiologi menyebutnya masalah mikro-makro, yaitu ketika keputusan individu secara agregat menciptakan fenomena sosial.

Sebagai contoh, kawan saya Matthew Salganik, sekarang profesor sosiologi di Princeton University, melakukan percobaan untuk meneliti bagaimana produk budaya menjadi populer. Ia membuat sebuah situs web, dimana semua orang pengunjungnya dapat mendengarkan dan mengunduh lagu dari musisi yang tidak dikenal.

Dia memanipulasi situs tersebut dengan membangun delapan ruang virtual dan memanipulasi jumlah lagu yang diunduh di tiap ruang, menciptakan dunia-dunia paralel.

Dari percobaan tersebut, Salgalnik menemukan bahwa alasan lagu-lagu yang populer menempati tangga teratas bukan disebabkan kualitasnya tapi karena banyak orang mengunduhnya. Orang-orang cenderung mendengarkan lagu yang memang sudah populer dan mengabaikan lagu-lagu yang belum pernah diunduh. Lagu-lagu yang menjadi populer berbeda di tiap-tiap “dunia”.

Ini hanya satu area penelitian yang dapat ditelaah. Lagu tampak tidak berbahaya. Namun bisa saja mereplikasi percobaan ini pada ideologi dan sistem kepercayaan selama kita memiliki alat mengukur perilaku yang pasti.

Sebuah penelitian berbasis web menemukan alasan lagu-lagu yang populer menempati tangga teratas bukan disebabkan kualitasnya tapi karena banyak orang mengunduhnya. Rawpixel.com/www.shutterstock.com

Pertimbangan etis

Pada akhirnya, dengan penelitian sosial berbasis internet, ilmuwan akan dapat memahami manusia lebih dari mereka memahami diri mereka sendiri.

Kita belum sampai di sana. Saat ini, hal paling revolusioner dari internet adalah akses pada Big Data. Dengan data ada banyak kemungkinan dan cara menguji teori perilaku sosial.

Namun, sebelum kita bergerak lebih jauh, kita masih harus mendiskusikan etika penelitian sosial menggunakan teknologi digital, terutama soal persetujuan. Beberapa perusahaan teknologi sudah melakukan eksperimentasi tanpa meminta izin pada penggunanya, contohnya algoritma yang Facebook gunakan untuk menentukan apa yang muncul dalam linimasa pengguna.

Sebagian dari kita yang menggunakan media digital sudah menjadi subjek eksperimentasi. Namun banyak yang tidak sadar.

Janji teknologi digital sebagai alat pengamatan yang efektif untuk mempelajari perilaku manusia dan masyarakat sangat seru. Namun, sebagai peneliti sosial, kami juga harus berhati-hati.

Kami perlu mencari sebuah sistem yang memberikan insentif bagi semua orang untuk menghindari kemungkinan membahayakan orang lain dan memastikan etika yang baik dijunjung tinggi.

This article was originally published in English