Menu
Mengakhiri rasisme merupakan tugas kita baik secara individual maupun kolektif. www.shutterstock.com

Telah lama dunia menghadapi pandemi rasisme. Bagaimana cara menghentikannya?

Saat ini, kita tahu tentang nasib George Floyd yang meninggal dunia setelah polisi di Mineapolis, Amerika Serikat (AS), menekan lehernya dengan lutut sampai ia kehabisan nafas.

Kematian tragis Floyd ini telah memicu protes terhadap praktik rasisme dan tindak kekerasan yang dilakukan polisi. Berbagai protes ini mendorong anggota Kongres AS menyusun rancangan undang-undang (RUU) untuk menghentikan penyalahgunaan kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Selain itu, di Inggris dan Belgia, patung-patung para figur pada masa kolonial yang dikenal rasis, dipindahkan. Berbagai film dan acara televisi yang mengandung unsur rasisme juga telah dihentikan penayangannya.

Pembunuhan George Floyd oleh polisi yang sempat disaksikan orang-orang - yang tidak berani berbuat apa-apa - membuktikan bahwa rasisme masih menjadi tantangan besar di AS. Namun demikian, rasisme struktural serupa tidak hanya terjadi di sana saja. Seperti pandemi COVID-19 yang sedang kita hadapi sekarang, rasisme juga terjadi di seluruh penjuru dunia.

Seperti halnya kita wajib bekerja sama untuk menanggulangi pandemi COVID-19, demikian juga wajib bagi kita untuk menghentikan rasisme secara global.

Para demonstran Black Lives Matter di New York City pada 5 Juni 2020. tetiana.photographer/Shutterstock

Penyebaran rasisme

Banyak orang berdebat apakah pandemi COVID-19 yang telah membunuh lebih dari 400,000 jiwa ini disebabkan oleh manusia, sebagai konsekuensi dari adanya berbagai efek samping yang tidak disengaja dan tidak terduga dari modernisasi dan industrialisasi yang eksploitatif.

Dalam hal pandemi rasisme, tidak diragukan lagi bahwa pandemi ini berasal dari konstruksi manusia. Jika COVID-19 berasal dari virus SARS-CoV-2, pandemi rasisme berasal dari pandangan tidak masuk akal dari sekelompok orang yang berpikir bahwa mereka lebih baik dibanding dengan orang lain yang terlihat berbeda darinya.

Para elite kulit putih dari Eropa sering menggunakan pandangan ini sebagai dasar kebijakan mereka yang imperialis, kolonialis, dan rasis demi mempertahankan klaim yang menyatakan bahwa mereka lebih unggul secara budaya dan biologis. Pandangan ini menghasilkan kolonisasi dunia oleh orang-orang kulit putih Eropa, perbudakan terhadap orang-orang dari benua Afrika di tanah air mereka sendiri, di tempat lain, dan di Amerika, serta Sosialisme Nasional Jerman oleh Nazi, yang baru terjadi di Eropa 75 tahun yang lalu.

Pada waktu Jerman dipimpin oleh Adolf Hitler, Nazi menggunakan rasisme ilmiah yang berbasis pada teori Darwinisme sosial, untuk mengklaim keunggulan orang Jerman, yang dianggap punya ras superior/Arya untuk menjustifikasi pembunuhan sistematis berskala besar terhadap sekitar 11 juta jiwa, yang terjadi pada tahun 1933-1945.

Sosialisme Nasional, yang umumnya dikenal sebagai Nazisme, menggunakan, mengeksploitasi, dan memperluas logika eugenika. Nazi membunuh tidak hanya dua pertiga dari populasi Yahudi di Eropa pada saat itu - sebagaimana diketahui dunia sekarang -, namun, mereka juga telah membunuh jutaan orang non-Yahudi lainnya, yang terdiri dari orang-orang Afrika, Romani, Sinti, dan berbagai kelompok lainnya yang dicap oleh Nazi sebagai “orang yang asosial” atau “tidak layak”, termasuk para homoseksual, orang tuli, buta, cacat, dan sakit mental.

Bahwa kita jarang mendengar bahwa Nazi juga telah membunuh jutaan jiwa dari berbagai kelompok lainnya juga telah membuktikan bahwa rasisme struktural masih berlaku hingga saat ini.

Menjadi sesuatu yang ironis bahwa AS yang merupakan anggota dari pasukan Sekutu yang dulunya mengalahkan Nazi dan mendorong terjadinya denazifikasi, baru mulai memberikan hak suara bagi orang-orang Amerika berkulit hitam sejak tahun 1960-an. Dan hingga saat ini, rasisme struktural terhadap orang Afrika-Amerika masih juga terjadi.

Sementara itu, di seluruh dunia banyak negara-negara pasca kolonial masih terus berjuang melawan hegemoni kulit putih.

Di wilayah Asia-Pasifik, di negara-negara yang dulunya merupakan negara koloni Eropa, banyak orang yang masih tetap menggunakan logika rasial dalam kehidupan sehari-hari mereka, secara sadar maupun tidak sadar.

Kulit gelap sering dikaitkan dengan pekerjaan kasar, sedangkan kulit yang lebih putih dan cerah sering dikaitkan dengan status sosial yang lebih tinggi dan dianggap sebagai bukti kemurnian suatu budaya. Rasisme juga masih melekat pada masyarakat konsumen, dengan cara mempromosikan konsep kecantikan yang cenderung merayakan dan mengagungkan orang-orang berkulit lebih terang.

Mengatasi pandemi rasisme

Mengakhiri rasisme merupakan tugas kita baik secara individual maupun kolektif. Sebuah gagasan yang menentang Eurosentrisme, yang diusulkan oleh seorang antropolog sosial-budaya bernama Franz Boas dapat membantu kita untuk melakukan hal ini. Ia berpendapat bahwa budaya bukanlah sesuatu yang mutlak. Standar norma suatu budaya tertentu tidak selalu bisa berlaku untuk mengukur budaya lain. Frans Boas mendorong pemahaman demokratis tentang budaya dan ras yang menghormati perbedaan sehingga tidak ada satu kelompok pun yang dianggap lebih tinggi atau paling unggul dari yang lain.

Pada tingkat individu, dalam mengatasi perspektif rasis dan menghentikan perilaku rasis dapat dimulai dengan cara mengubah pandangan dan jagat pikir kita. Kita harus mulai menetralisir konsep tentang diri dan lian, dan mulai memperlakukan setiap orang secara setara - tanpa peduli apa pun warna kulit mereka. Hal ini juga dapat dimulai dengan berhenti percaya terhadap supremasi kulit putih dan mengakhiri pandangan yang minor terhadap sesama kita yang berkulit gelap.

Pada tingkat organisasi dan masyarakat, kita harus bisa menentang ideologi populer kontemporer tentang rasisme ilmiah. Sebagai contoh, proses penerimaan murid baru di sekolah, berbagai layanan publik, dan perusahaan tidak boleh mendiskriminasi orang berdasarkan ras atau warna kulit mereka. Organisasi-organisasi juga harus secara aktif mendukung orang-orang dari kelompok yang secara historis pernah tertindas karena diskriminasi berbasis ras dan seringkali tidak terwakilkan dalam berbagai bidang kehidupan publik.

Dalam sektor bisnis, hegemoni politik warna kulit dalam pembuatan berbagai produk mereka juga harus diperbaiki.

Terakhir, pemerintah di seluruh dunia juga harus tetap berupaya dalam mengurangi ketidaksetaraan struktural yang muncul akibat adanya hierarki sosial yang rasis.

Kematian George Floyd jangan sampai sia-sia. Hingga saat ini, kematiannya telah mendorong terjadinya gerakan di seluruh dunia yang bertujuan untuk mengatasi pandemi rasisme.

Kita semua harus mendekonstruksi supremasi kulit putih, yang merupakan “normal lama” kita, dan bergerak bersama untuk sepenuhnya percaya pada paham bahwa semua ras adalah sederajat. Artinya, kita harus dapat menghargai setiap orang secara setara, dan juga secara alami melihat bahwa setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama.


Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Diva Tasya Belinda Rauf

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 113,000 academics and researchers from 3,687 institutions.

Register now