Tiga strategi bagi Menteri Pertanian yang baru untuk dapatkan data lahan yang akurat dan aktual

Menteri Pertanian yang baru, Syahrul Yasin Limpo, mempunyai pekerjaan besar untuk menyediakan data sumber daya lahan dan tanah yang akurat dan kredibel terkait komoditas pertanian, perkebunan, dan peternakan. Selama puluhan tahun, tanpa data lahan yang akurat dan aktual, sulit menghitung produksi beras nasional secara kredibel.

Baru-baru ini, mantan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, setelah tak lagi menjabat dengan nada keras menuding bahwa data lahan sawah yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik untuk memprediksi luas panen merupakan data mafia. Tahun lalu, memang mencuat adanya perbedaan data luas sawah antara Kementerian Pertanian dan BPS yang mengakibatkan kebingungan bahkan timbul ketidakpercayaan publik.

Tingkat akurasi data hanya satu dari sejumlah masalah yang dihadapi oleh Kementerian Pertanian. Kini banyak harapan bahwa sektor pertanian menjadi lebih baik pengelolaannya di bawah menteri baru di Kabinet Indonesia Maju. Tanpa fundamental pertanian yang kuat, ketahanan pangan penduduk Indonesia menjadi taruhannya.

Berikut ini tiga strategi di sektor pertanian di negeri ini yang mestinya dilakukan oleh Menteri Pertanian agar data lahan menjadi lebih akurat dan aktual :

Buat peta kesesuaian lahan dan tanaman

Suksesnya aktivitas pertanian berawal dari tanah. Peningkatan produksi pertanian sangat tergantung kondisi tanah tempat tanaman itu akan tumbuh. Segala aspek pertanahan dan faktor yang mempengaruhinya harus dimengerti dan tersedia datanya.

Sampai saat ini belum ada peta kesesuaian lahan untuk seluruh kawasan produksi pertanian aktual dan potensial. Ini penting karena pertanian tidak bisa lagi secara uji coba, tapi harus berbasiskan data lahan dan tanah yang sudah diuji kesesuaiannya dengan jenis tanaman.

Peta ini akan menyajikan suatu kawasan apakah cocok untuk ditanami tanaman tertentu atau tidak. Berbagai faktor digunakan untuk menganalisis kecocokan tanaman terhadap tanah, topografi (ketinggian tempat, lereng), dan iklim (curah hujan, suhu udara, lamanya penyinaran matahari, angin, kelembaban).

Hasil proses evaluasi lahan ini berupa rekomendasi sesuai dan tidak sesuai suatu kawasan untuk tanaman yang dievaluasi. Berbekal peta kesesuaian lahan ini dapat diketahui lebih awal sukses atau tidaknya pertumbuhan dan produksi tanaman pangan, hortikultura atau tahunan.

Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian melaporkan telah ada peta tanah, peta kesesuaian lahan, peta arahan komoditas dan rekomendasi pengelolaan lahan pertanian di 511 kabupaten dan kota di Indonesia dengan skala lebih detail 1:50.000.

Sayangnya, peta yang dikembangkan berbasis aplikasi berbasis android ini kurang disosialisasikan pada masyarakat dan format petanya masih dalam bentuk “pdf dan "shp” sehingga tidak bisa langsung digunakan dengan Google Earth dan aplikasi gratis lainnya seperti Avenza Map. Selain itu, untuk mendapatkan peta tersebut publik harus membelinya dan tak disediakan daftar harga peta. Jadi tetap saja aksesnya belum bersahabat dengan para petani.

Libatkan universitas untuk pemetaan detail sampai desa

Melibatkan perguruan tinggi merupakan hal penting untuk memajukan pertanian. Pelibatan ini dapat melalui kerja sama, pengabdian pada masyarakat, kuliah kerja nyata, praktikum mata kuliah dan penelitian dosen serta penelitian skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa. Harus dibuat program kerja yang terpadu dan berkesinambungan untuk mengoptimalkan lahan pertanian.

Contohnya, kerja sama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas dan pemerintah Kabupaten Solok Selatan Sumatra Barat tahun ini telah berhasil merincikan lahan sawah pada 4 kecamatan dari 7 kecamatan yang ada. Kajian pemetaan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang saya lakukan (Dian Fiantis) dan tim di Kabupaten Solok Selatan ini menghasilkan data spasial yang sangat detail sampai level desa dan dibuat dalam format yang bisa diakses dengan Google Earth (Gambar 1).

Gambar 1. Peta Sawah Nagari Lubuk Gadang Kecamatan Sangir Solok Selatan.

Luaran yang dihasilkan sangat berguna untuk para penyuluh pertanian di tingkat kecamatan dan desa. Para penyuluh akan dibekali peta sawah yang bisa dibuka melalui telepon genggam atau tablet ketika berada di lapangan. Data tersedia dengan versi “pdf” yang mempunyai referensi geografis agar dapat dibuka dengan aplikasi “Avenza Map” dan data berformat “kml/kmz” untuk diakses dengan “Google Earth”.

Jika sebaran spasial dari lahan pertanian aktual ini dapat ditelusuri di dunia maya, maka akan dapat diketahui beragam informasi yang tersimpan didalamnya (Gambar 2). Ada informasi nama pemilik sawah, kelompok tani, status kepemilikan, luas sawah, petak sawah termasuk lahan pertanian berkelanjutan atau tidak serta telah ditentukan letak lahan cadangan untuk sawah.

Gambar 2. Sebaran spasial dan sistem informasi lahan sawah di nagari Lubuk Gadang Solok Selatan.

Tentu saja informasi dalam bentuk tabel ini dapat ditambahkan sesuai kebutuhan dan dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah dengan perangkat lunak geografis yang tersedia gratis.

Sediakan data produksi pertanian dan kebutuhan pangan di level kabupaten

Dari kerja sama itu, luas lahan sawah aktual di Kabupaten Solok Selatan yang dapat kami identifikasi melalui citra satelit dan digitasi mencapai 9 ribu hektare. Dengan data ini kebutuhan akan beras untuk penduduk Solok Selatan yang berjumlah 165.603 jiwa dapat dikalkulasi dengan tepat.

Produktivitas beras dilaporkan 5,4 ton per hektare maka didapatkan sekali tanam (dengan durasi 4 bulan) produksi beras 40.600 ton. Jika dibagikan pada setiap penduduk memperoleh 245 kg beras. Seharusnya kebutuhan beras penduduk di Solok Selatan sudah terpenuhi bahkan surplus lebih dua kali lipat untuk konsumsi setahun.

Pemetaan ini baru contoh di satu kabupaten. Jika kerja sama pemetaan itu dilakukan semua kabupaten, data lahan dan produksi pangan sangat berguna dalam menyusun kebijakan di tingkat nasional.

Selain itu, agar produksi pertanian selalu tinggi kondisi tanah harus optimal. Praktik tanam tiga kali setahun akan membuat tanah tidak sehat, kapasitas dan kualitas tanah turun secara drastis berdampak produksi anjlok. Tanah dipaksa bekerja sepanjang tahun tanpa jeda.

Agar tanah tidak kelelahan, sebaiknya diberikan masa istirahat selama satu musim. Tapi hal ini akan sulit terlaksana karena kepemilikan lahan yang tidak luas. Untuk itu diperlukan data terkini tentang kesuburan tanah pada satu kawasan agar dapat memberikan pupuk yang tepat untuk mendukung produksi pertanian.

Praktik bercocok tanam dengan penerapan teknologi yang tepat dapat membantu petani meningkatkan hasil. Jika itu dilakukan, tidak akan ada lagi penyusunan program pertanian dengan data prakiraan lokasi dan luas lahannya serta kepemilikannya. Pemberian subsidi kepada petani juga berdasarkan data aktual dan akuntabel.

Data sumber daya lahan pertanian Indonesia yang terbuka

Data sumber daya lahan dan tanah harus bisa diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Tersedianya data ini akan menjadi kunci pembangunan pertanian daerah dan nasional yang rasional dan efisien.

Dalam bentuk tabel telah diterbitkan buku Sumber Daya Lahan Pertanian Indonesia oleh Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) pada 2015. Lahan Indonesia berdasarkan ekosistemnya ada 3 yaitu lahan rawa, kering, dan basah non-rawa yang terdapat di dataran rendah dan tinggi. Terdapat juga data luas lahan yang berada pada iklim basah dan kering serta apakah tanahnya bereaksi masam atau tidak.

Visualisasi data sumber daya lahan seluruh Indonesia yang telah dibuat oleh BBSDLP pada skala kecil atau eksplorasi (1:1.000.000) dalam bentuk Atlas Sumber Daya Lahan. Sedangkan peta dengan skala tinjau (1:250.000) ketersediaannya belum mencakup kawasan timur Indonesia. Adapun peta dengan skala 1:50.000 masih sangat terbatas.

Jika peta skala tinjau dan eksplorasi dibuat pemerintah pusat, maka peta skala detail sampai sangat detail tentu akan lebih banyak disediakan. Dan pemerintah daerah harusnya didorong untuk mewujudkannya.

Dengan adanya data ini, kita sudah punya modal dasar untuk menyusun kebijakan pertanian secara sistematis pada tingkat nasional dan daerah. Tapi penyusunan rencana untuk aplikasi di tingkat lokal memerlukan data yang lebih detail pada skala 1:50.000 sampai 1:25.000.

Masalahnya apakah peta-peta tersebut digunakan oleh pemerintah daerah untuk menyusun rencana pertanian? Apakah masyarakat mengetahui sebaran secara spasial dari lahan-lahan tersebut?

Usulan konkretnya: bikinlah data spasial potensi sumber daya lahan yang bisa diakses dengan menggunakan internet melalui Google map dan Google Earth. Keterbukaan informasi ini diperlukan agar akselerasi pembangunan pertanian lebih kencang dan merata.


Catatan editor: Kami telah mengoreksi data peta tanah yang sebelumnya tertulis di 8 kabupaten di Provinsi Banten menjadi 511 kabupaten dan kota di Indonesia. Ada tambahan satu paragraf di bawahnya.