Menu Close
Seorang gadis berkampanye untuk menghentikan tuberkulosis pada peringatan Hari TBC Dunia, 24 Maret. EPA/SANJAY BAID

Tuberkulosis tetap menyerang saat pandemi coronavirus: 5 fakta TBC yang jarang diketahui di Indonesia

Seperti COVID-19 yang menyerang organ paru-paru pada 1,2 juta orang di seluruh dunia dengan kematian sekitar 67 ribu orang per 7 April, tuberkulosis (TBC) juga menyasar paru-paru pada 10 juta orang dengan kematian 1,5 juta pada 2018.

Kedua penyakit juga ditularkan ke orang lain melalui medium yang sama: percikan dari mulut dan hidung penderita dalam kontak dekat. Bedanya, COVID mengganggu sistem pernapasan melalui infeksi virus jenis SARS-CoV-2 dan belum diketahui obat serta vaksinnya, sementara TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang obat dan panduan pengobatannya sangat terang benderang.

Walau bisa dicegah dan diobati, TBC merupakan salah satu penyakit infeksi paling membunuh di dunia. Di Indonesia, setiap 30 detik satu orang tertular TBC dan rata-rata 13 orang meninggal setiap satu jam akibat penyakit menular itu. Jadi setiap hari ada 300 tewas karena TBC.

Pada masa sulit pandemi seperti saat ini, penderita TBC sangat berpotensi untuk terkena penyakit tambahan akibat coronovirus.

Jika tidak ada upaya pengendalian yang lebih progresif terhadap TBC - epidemi penyakit ini ditargetkan berakhir pada 2035 - maka penyakit menular ini tidak akan hilang dari bumi hingga 2070.

Berikut ini 5 fakta ihwal TBC, salah satu penyakit pembunuh terbanyak di Indonesia, yang jarang diketahui.

1. Indonesia punya kasus terbanyak ketiga di dunia

Penyakit TBC telah menjadi penyakit menular pembunuh nomor satu di dunia sejak ditemukan oleh ahli bakteri Jerman Robert Koch pada 24 Maret 1882. Kini tanggal itu diperingati sebagai Hari TBC Dunia.

Telah lebih dari satu abad penyakit ini belum bisa dibinasakan di muka bumi, meski ada teknologi modern, anggaran miliaran dolar, riset dan kerja sama global yang intensif.

Di Indonesia, sejarah TBC bisa ditelusuri hingga 1908.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2019 menyatakan Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia penderita TBC dengan 845 ribu kasus, di bawah India (2,7 juta kasus) dan Cina (867 ribu kasus).

Seperti COVID-19, TBC sangat rentan menyerang orang-orang yang sistem imunitas tubuhnya rendah seperti penderita HIV dan penyakit autoimun, serta orang-orang yang punya penyakit menahun seperti diabetes melitus, hipertensi, dan jantung.

Hal ini yang mengakibatkan Indonesia menempati urutan ke-8 untuk penderita HIV yang juga pengidap TBC (TBC-HIV) sebanyak 21.000 kasus pada 2018.

Selain itu, jumlah penderita TBC resistan obat (TB-RO), yakni penderita TB yang tak mempan diobati dengan obat anti TBC (OAT) lini pertama, juga meningkat. Pada 2013, jumlah kasus TB resistan obat di Indonesia hanya 1094 kasus tapi pada 2018 ada lebih dari 8000 kasus TB-RO.

Dampak paling mengkhawatirkan, hal ini menyebabkan jumlah penderita TBC di Indonesia tidak bisa berkurang secara drastis. Sebab, setiap satu orang penderita TBC bisa menulari hingga 15 orang.

2. Upaya pengendalian TBC sejak 50 tahun lalu, tapi jumlah kasus TBC tak berubah

Sejak zaman Orde Baru, tepatnya mulai 1969, pemerintah Indonesia menetapkan program TBC sebagai bagian dari prioritas program kerja Kementerian Kesehatan untuk mengendalikan TBC di Indonesia.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan untuk membasmi TBC. Langkah itu mulai dari penelusuran kontak TBC , penegakkan diagnosis TBC, manajemen pengobatan TBC baik yang reguler maupun TB-RO, pendirian bangsal khusus TBC di beberapa rumah sakit rujukan TBC, hingga kampanye pencegahan dan pengobatan ke masyarakat.

Program tersebut memang menuai keberhasilan dengan meningkatnya temuan kasus TBC. Lalu pengobatan bisa dengan cepat dilakukan dan angka kesembuhan kasus TBC bisa meningkat.

Namun demikian, laju kesembuhan ini tidak sebanding dengan kasus TBC baru dan kasus TBC kambuh sehingga kasus TB secara keseluruhan di Indonesia tidak menurun signifikan.

Sejak 2000 hingga 2018, kasus penderita TBC baru dan penderita TBC kambuh hanya berkurang dari 380 menjadi 318 orang per 100.000 penduduk .

3. Pengobatan TBC panjang dan melelahkan

Bagi penderita TBC reguler, ada dua tahap pengobatan anti-TBC (OAT): pertama, tahap intensif selama dua bulan, dan kedua, fase lanjutan selama 4 bulan.

Pada tahap intensif, penderita diberi obat lini pertama berupa antibiotik khusus TBC seperti rifampisin, isoniazid, pyrazninamid. Pada fase ini, penderita TBC harus mengkonsumsi obat–biasanya lebih dari satu macam obat bahkan bisa empat obat sekaligus–setiap hari tanpa putus. Sementara pada fase lanjutan jumlah dan jenis obat yang diberikan jauh lebih sedikit.

Karena konsumsi obat tiap hari dalam kurun waktu yang lama, tak jarang penderita TBC mengalami efek samping seperti gagal ginjal, dan halusinasi yang dapat menyebabkan munculnya niat bunuh diri

Karena pengobatan yang kompleks, tak sedikit pula penderita TBC reguler gagal menjalani pengobatan dengan benar. Akibatnya, bakteri penyebab TBC di dalam tubuh menjadi kebal pada obat lini pertama. Jika itu terjadi, penderita dapat digolongkan sebagai pasien TBC resistan obat (TB-RO).

Untuk menyembuhkan kasus kebal obat ini, diperlukan obat lini kedua yang memiliki kemampuan membunuh bakteri yang lebih tinggi. Pasien TB-RO harus menghabiskan waktu 24 bulan untuk sembuh. Obat TB-RO juga lebih mahal (lebih dari 10 kali lipat) dibandingkan dengan obat lini pertama.

Di sisi lain, obat lini kedua pun memiliki efek samping yang lebih keras dibandingkan obat lini pertama. Sebuah riset menunjukkan, 67% penderita TB-RO mengalami penurunan kemampuan pendengaran setelah diobati.

Masalah yang kompleks ini yang menyebabkan keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia hanya 80-87% dari total kasus selama 15 tahun terakhir.

4. Pasien TBC rugi kesehatan dan sosial-ekonomi

Selain kerugian kesehatan, penderita TBC mengalami kerugian sosial ekonomi.

Setidaknya penderita TBC harus membayar tiga jenis biaya, yang oleh WHO disebut total biaya bencana besar:

  • Biaya pengobatan langsung: biaya terkait pengobatan di pusat layanan kesehatan seperti registrasi pasien, pemeriksaan dokter, laboratorium, pengobatan, rawat inap, dan sejenisnya. Pemerintah Indonesia melalui bantuan global dan APBN menanggung biaya pengobatan langsung pasien yang per pasien menghabiskan Rp2,3 juta bagi TB reguler dan Rp32 juta bagi penderita TB-RO untuk sembuh.

  • Biaya pengobatan tidak langsung: transportasi dan makan yang harus dikeluarkan pasien (dan pengantarnya) untuk datang pengobatan ke dokter, puskesmas, klinik, dan rumah sakit.

  • Biaya tidak langsung: hilangnya pendapatan penderita TB dan anggota keluarga yang merawat pasien TBC. Riset pada penderita TBC di Jakarta, Tasikmalaya, dan Depok menunjukkan rata-rata penghasilan penderita TBC reguler di kalangan kelompok miskin menurun hampir 50%, dari Rp1,35 juta (saat sehat) jadi Rp650 ribu (saat sakit) per bulan.

Walau pemerintah menanggung biaya pengobatan langsung secara penuh, penderita TBC reguler tetap harus menanggung biaya 36% dari total biaya bencana besar, sedangkan penderita TB resisten obat membiayai 83%. Di kalangan kelas ekonomi bawah, yang banyak terdapat penderita TBC , biaya tersebut ditutup dengan cara berutang atau menjual aset keluarga.

5. Belum ada vaksin selain BCG

Vaksin BCG (Bacillus Calmette–Guérin) merupakan satu-satunya vaksin berlisensi yang digunakan untuk mencegah TBC. Namun vaksin ini memiliki daya lindung yang bervariasi, antara 0-80% pada populasi berbeda (bayi baru lahir atau remaja)

Di Indonesia, BCG merupakan vaksin wajib yang harus diberikan pada bayi. Namun, dengan intervensi pemberian vaksin pun, angka penderita TB hanya turun sedikit setiap tahunnya.

Para peneliti dunia saat ini sedang mengembangkan vaksin yang memiliki daya lindung lebih baik dari BCG. Namun, hingga kini belum ada satu vaksin pun dapat mengalahkan daya lindung BCG terhadap TBC.

Padahal, vaksin inilah yang menjadi harapan untuk menghapus TBC pada 2050.

Di tengah masa sulit karena serangan coronavirus, agenda pemberantasan TBC tak boleh kendor. Kerja sama pemerintah dan masyarakat memegang peranan penting mengakhiri sejarah TBC di Indonesia.

Jika pandemi COVID diharapkan dapat berakhir dalam hitungan bulan atau tahun, wabah TBC akan terus berulang setiap tahun hingga waktu yang belum diketahui.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 117,400 academics and researchers from 3,790 institutions.

Register now