Sampel darah yang positif terkena virus dengue. Jarun Ontakrai/Shutterstock

Menggunakan Google Trends untuk dukung sistem monitoring demam berdarah, bagaimana caranya?

Dalam dua pekan Januari tahun ini, hampir 150 warga Depok Jawa Barat terkena demam berdarah dengue (DBD). Di Jakarta, jumlah kasus DBD meningkat hampir dua kali (370 kasus) pada bulan ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka sebenarnya mungkin lebih tinggi karena belum semua kasus di fasilitas kesehatan terlaporkan.

Kementerian Kesehatan telah menyatakan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah. Bahkan ada kematian karena DBD seperti di Kabupaten Semarang dan Labuan Bajo. Sejak awal Januari 2019 kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat drastis di berbagai daerah.

Selain cara-cara konvensional (pendataan kasus lewat fasilitas kesehatan), kini saatnya memanfaatkan data di internet untuk mendukung sistem monitoring DBD yang lebih efektif. Riset terbaru kami menunjukkan bahwa data di internet bisa dipakai untuk mendeteksi kenaikan kasus DBD lebih cepat dibanding cara konvensional.

Kerugian akibat gigitan nyamuk

Indonesia adalah daerah endemis DBD terbesar di Asia Tenggara. Kasus DBD pertama dilaporkan pada 1968 hanya terjadi di Surabaya dan Jakarta. Kini, tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang aman dari DBD.

Estimasi kerugian akibat KLB DBD pada 2011 diperkirakan mencapai lebih dari US$6 juta dan diperkirakan naik menjadi lebih dari US$380 juta pada 2015.

Karena musim hujan diperkirakan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan risiko kesakitan dan wabah DBD perlu diwaspadai dan diantisipasi.

Keterbatasan pengawasan saat ini

Mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue yang terbitkan oleh Kementerian Kesehatan, setiap pasien kasus DBD yang dirawat di rumah sakit wajib dilaporkan dalam 1x24 jam sejak diagnosis ditetapkan.

Namun sistem Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KD-RS) tidak selalu tepat waktu. Sebuah riset di Bandung mengungkapkan bahwa hanya 45,7% kasus DBD yang dilaporkan ke dinas kesehatan kota, itu pun setelah beberapa hari hingga bulan.

Lagi pula, pelaporan kasus DBD dari rumah sakit telah melewati sekian hari masa inkubasi sejak pertama kali digigit oleh nyamuk Aedes aegypti. Korban umumnya memulai dengan minum obat penurun panas, berkunjung ke Puskesmas atau klinik, baru kemudian dirawat di rumah sakit. Dengan mudahnya mencari informasi, pasien diduga mulai googling di Internet tentang DBD sejak awal masa inkubasi.

Karena itu, kegiatan fogging setelah laporan KD-RS kalah cepat dengan aktivitas penularan oleh nyamuk pembawa virus dengue di lingkungan.

Pakai Google Trends

Platform Google Trends, bisa mengendus peningkatan penyakit termasuk demam berdarah. Banyaknya orang yang googling tentang demam berdarah, berkorelasi dengan meningkatnya kasus DBD. Penelitian kami yang membandingkan pencarian kata kunci di Google dengan data surveilans demam berdarah dari Kementerian Kesehatan pada 2012-2016 membuktikan hal tersebut. Kata kunci yang umum digunakan adalah “demam berdarah”, “gejala demam berdarah”, dan “dbd”.

Google Trends bahkan dapat mendeteksi kenaikan kasus lebih awal, satu hingga tiga bulan sebelumnya. Selain itu, sebaran pencarian dapat dipetakan.

Pada awal 2019, pencarian tentang demam berdarah terjadi di hampir seluruh wilayah. Hanya di 4 provinsi, yaitu Riau, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Barat dan Papua Barat yang tidak terdeteksi. Intensitas pencarian tertinggi di provinsi Sulawesi Utara. Provinsi dengan volume pencarian di atas rerata adalah Jawa Timur, Gorontalo, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara. Tiga di antaranya merupakan provinsi yang ditetapkan sebagai KLB DBD yaitu Sulawesi Utara, NTT dan Kalimantan Tengah.

Peta sebaran pencarian informasi tentang demam berdarah dengue di Internet pada Januari 2019. Author provided

Penelitian kami senada dengan riset Althouse dan Cummings serta Chan. yang memprediksi demam berdarah di Bolivia, Brazil, India dan Singapura dengan Google Trends.

Oleh karenanya, Google Trends berpotensi sebagai sumber data komplementer untuk surveilans demam berdarah. Selain gratis, data Google Trends bersifat real time.

Google Trends: DBD pada Januari

Kenaikan kasus DBD sudah terekam jejaknya di Google Trends sejak pekan terakhir November 2018. Pada periode tersebut, volume pencarian demam berdarah sudah menyamai puncak googling tentang DBD sebelumnya, yaitu pada Januari 2017.

Pencarian informasi tentang demam berdarah dengue di Google Trends, Januari 2017-Januari 2019. Author provided

Pada pekan pertama Januari 2019, volume pencarian demam berdarah mencapai 90 poin. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya.

Artinya, Google Trends bisa mengendus status waspada KLB demam berdarah lebih cepat dari status yang ditetapkan oleh pemerintah DKI berdasarkan data resmi.

Untuk diadopsi memperkuat kebijakan, misalnya deteksi dini atau penentuan KLB dan Waspada, data Google Trends perlu dikonfirmasi dengan data resmi, baik di tingkat pusat dan daerah.

Soalnya, akurasi data di Google Trends juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya, penetrasi internet di wilayah, literasi digital, literasi kesehatan serta persepsi masyarakat terhadap penyakit akibat paparan media. Di samping itu, Google Trends baru menyediakan data frekuensi pencarian berdasarkan waktu dan tempat. Pada sistem surveilans penyakit, variabel yang penting lainnya adalah karakteristik orang, seperti kelompok umur, jenis pekerjaan, jenis kelamin, dan faktor demografis lain.

Potensi data digital

Berbagai hasil penelitian mengenai penyakit menular lain seperti Zika, influenza, chikungunya, dan penyakit tidak menular seperti kanker menunjukkan potensi Google Trends untuk pemantauan penyakit. Kami berharap penelitian-penelitian ini menjadi referensi pembuatan kebijakan surveilans penyakit di era digital.

Tidak tersedianya data karakteristik orang bisa diatasi melalui pemanfaatan mahadata BPJS Kesehatan. Sistem elektroniknya yang menghimpun 215 juta peserta dan transaksi kesehatan di lebih dari 23 ribu fasilitas kesehatan dapat dipadukan untuk surveilans DBD. Saat ini, sekitar 3 juta orang yang telah mengunduh aplikasi mobile JKN dari BPJS Kesehatan. Jika di app tersebut tersedia fitur pencarian informasi kesehatan berbasis Google, kesenjangan data individu dalam Google Trends dapat teratasi.

Dalam konteks kebijakan berbasis bukti, salah satu tugas pemegang kebijakan adalah menerima bukti ilmiah, kemudian meneliti dan mengonfirmasi dengan bukti di lapangan. Memadukan Google Trends dengan sistem surveilans DBD diharapkan dapat memperkuat kebijakan sistem kewaspadaan dini dan program pencegahan DBD.

Pepatah bilang, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Apalagi di musim hujan yang kondusif untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes pembawa virus dengue.