Menu Close

Apa itu gastroenteritis dan mengapa saya tidak bisa sembuh?

gastroenteritis
Gejala dapat terjadi segera setelah 30 menit terpapar organisme atau toksin ini. Anton Brand/Shutterstock

Kita semua pasti pernah mengalami kram perut dan keinginan untuk pergi ke toilet - secepatnya! Ketika perut dan saluran usus meradang, tubuh kita akan bereaksi dengan timbulnya diare yang tiba-tiba, mual dan muntah, kram perut, serta rasa sakit.

Gastroenteritis yang dapat menular dikenal dengan sebutan “balas dendam Montezuma”, “Delhi belly”, “flu perut”, dan “virus gastro”, tapi mari kita gunakan istilah “gastroenteritis menular”. Ini termasuk keracunan makanan, yakni racun bakteri yang dikonsumsi dalam makanan yang terkontaminasi dapat dengan cepat menimbulkan gejala.

Meskipun gastroenteritis menular biasanya sembuh dengan sendirinya, dalam beberapa kasus, hal ini dapat menyebabkan konsekuensi yang parah, terutama melalui dehidrasi. Di seluruh dunia, 1,45 juta orang meninggal akibat gastroenteritis menular setiap tahunnya.

Gejala dapat muncul dalam waktu 30 menit setelah terpapar organisme penyebab atau toksin. Namun yang paling sering, gejala berkembang 12 hingga 72 jam setelah paparan.

Gastroenteritis menular akut biasanya sembuh dalam waktu dua minggu, tetapi kasus yang parah dapat berlangsung selama beberapa minggu.

Penyebab Gastroenteritis

Virus seperti rotavirus, norovirus, adenovirus, dan astrovirus adalah penyebab umum gastroenteritis menular. Rotavirus adalah penyebab utama gastroenteritis akut yang parah pada bayi dan anak-anak. Hampir setiap anak di dunia akan menderita setidaknya satu infeksi pada saat mereka berusia tiga tahun.

Norovirus adalah penyebab utama gastroenteritis pada orang dewasa. Norovirus bersifat sangat menular dan wabah biasanya terjadi di fasilitas perawatan dan rumah sakit. Pasien dapat tetap menular setidaknya selama 48 jam setelah gejala-gejalanya hilang.

Bakteri Campylonbacter adalah penyebab umum gastroenteritis. Wikimedia commons, CC BY

Escherichia coli (e. coli), Salmonella, Shigella, dan Campylobacter adalah penyebab umum gastroenteritis bakteri. Bakteri ini sering ditemukan dalam makanan yang terkontaminasi, termasuk daging mentah atau setengah matang, unggas, makanan laut, dan susu yang tidak dipasteurisasi.

Gastroenteritis bakteri menyumbang 80% dari kasus diare pada wisatawan dan diperkirakan memengaruhi 20-50% wisatawan internasional.

Beberapa parasit seperti Giardia lamblia, entamoeba histolytica dan cryptosporidium diketahui dapat menyebabkan gastroenteritis. Meskipun biasanya gastroenteritis parasit bisa sembuh tanpa pengobatan, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu dapat mengalami gejala yang berkepanjangan.

Pencegahan dan pengobatan

Penggunaan air bersih dan praktik sanitasi yang baik penting untuk mengurangi tingkat infeksi gastroenteritis. Mencuci tangan dengan sabun telah terbukti mengurangi risiko gastroenteritis hingga 47%.

Tentu saja, menghindari makanan yang terkontaminasi yang dapat mengandung bakteri dan parasit beracun juga penting.

Vaksinasi juga efektif, terutama untuk rotavirus. Vaksin rotavirus telah menunjukkan penurunan yang nyata dalam tingkat dan tingkat keparahan penyakit di negara berkembang dan negara maju.

Rehidrasi oral adalah dasar pengobatan bagi mereka yang menderita dehidrasi ringan hingga sedang. Hal ini dapat dicapai melalui larutan yang mengandung air, garam dan gula. Untuk kasus dehidrasi yang parah, rawat inap dan cairan intravena mungkin diperlukan.

Antibiotik umumnya tidak dianjurkan kecuali jika gastroenteritis disebabkan oleh bakteri atau parasit dan gejalanya parah.

Penyakit jangka panjang dari Gastroenteritis

Bagaimana jika gejala gastroenteritis masih berlanjut berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun ke depan?

Banyak bukti yang mengaitkan infeksi bakteri, virus, dan parasit dengan peningkatan risiko sindrom iritasi usus besar.

Sebuah studi mengikuti pasien yang mengalami gastroenteritis akut selama wabah besar pada 2000. Prevalensi sindrom iritasi usus besar pada tiga tahun sangat tinggi, yaitu 28,3%. Delapan tahun setelah wabah, prevalensi sindrom iritasi usus masih tinggi, yaitu 15,4%.

Penghalang usus memungkinkan nutrisi penting masuk ke dalam usus sambil menjaga pertahanan terhadap racun dan organisme berbahaya. Namun, penghalang ini dapat rusak pada gastroenteritis infeksi akut. Zat-zat asing kemudian dapat masuk ke jaringan usus yang lebih dalam dan menyebabkan peradangan.

Mencuci tangan dengan sabun mengurangi risiko gastroenteritis sebesar kurang-lebih 50%. Brandon Otto/Flickr, CC BY-NC

Sebuah studi meneliti para pasien penderita gastroenteritis yang disebabkan oleh Shigella menemukan bahwa terdapat peningkatan jumlah sel mast (sebuah tipe dari sel darah putih) dalam usus. Sel mast diketahui mengeluarkan hormon serotonin yang penting untuk memberi sinyal pada sistem saraf enterik. Hal ini mungkin merupakan mekanisme lain yang menyebabkan sindrom iritasi usus pasca infeksi.

Para peneliti juga telah mempelajari apa yang terjadi, pada tingkat sel, di dalam usus setelah gastroenteritis akut. Sel-sel interstisial Cajal dikenal sebagai sel pacu jantung usus dan membantu mencerna makanan dan memindahkannya melalui usus. Sel-sel ini berubah pada tikus yang terpapar sejenis bakteri gastroenteritis.

Pertanyaan gastroenteritis yang masih belum terjawab

Kami memiliki pemahaman yang cukup baik tentang penyebab gastroenteritis menular dan pengobatannya. Namun, masih banyak yang perlu kita pelajari, terutama dalam hal memahami bagaimana gejala-gejala tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kita belajar untuk menghargai pentingnya sistem kekebalan tubuh yang terganggu untuk gejala gastrointestinal jangka panjang. Hal ini membuka kemungkinan untuk penggunaan obat anti-inflamasi secara selektif atau obat pengubah kekebalan tubuh pada pasien yang baru sembuh dari gastroenteritis infeksi.


Rahma Sekar Andini dari Universitas Negeri Malang menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 184,300 academics and researchers from 4,971 institutions.

Register now