Menu Close
Eko.

Bagaimana pekerja kreatif muda di Yogyakarta tetap produktif pada masa pandemi

Danastri Rizqi Nabilah, pembuat film dari Yogyakarta, harus banting setir berjualan kue karena kehilangan pendapatannya hingga 40% selama pandemi.

Biasanya perempuan berusia 29 tahun tersebut melaju Yogyakarta dan Jakarta untuk beberapa proyek, tapi pandemi membuatnya harus tetap tinggal di Yogyakarta.

“Saya mendapat tawaran dari seorang produser film, tentu saja saya menerimanya, tapi saya menjalankan usaha kecil katering juga,” kata dia ketika diwawancarai awal Oktober tahun lalu.

Danastri adalah satu dari 172.000 pekerja kreatif di Yogyakarta yang harus menemukan strategi baru untuk bertahan selama pandemi agar bisa tetap menyalurkan jiwa keseniannya.

Pandemi telah membuat sektor kesenian dan kebudayaan di Indonesia keok karena banyak acara pertunjukan, konser, dan pemutaran film harus dibatalkan.

Sebuah survei terbaru dari SINDIKASI, wadah kolektif bagi pekerja media dan kreatif termasuk seniman, menunjukkan bahwa hampir setengahnya (42%) dari responden dari 144 responden harus bergantung pada tabungan untuk bertahan hidup dan 22% harus meminjam uang kepada temannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Riset terbaru kami mengamati bagaimana pandemi berdampak pada pekerja kreatif muda yang jumlahnya mencapai 18% dari total pekerja yang berkontribusi pada sektor ekonomi kreatif Indonesia. Nilai sektor ekonomi kreatif mencapai hampir 5% dari jumlah Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2019.

Kami melakukan riset di Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Budaya dengan jumlah pekerja kreatif yang paling banyak di Indonesia. Yogyakarta sendiri telah menyumbang Rp 3,3 triliun untuk ekonomi nasional pada 2016. Angka ini tertinggi dibanding dengan provinsi lainnya.

Riset kami menemukan bahwa persilangan berbagai faktor seperti latar belakang demografis, kelas sosial, jaringan, dan keterampilan berkesenian masing-masing individu menentukan bagaimana respons pekerja kreatif muda di Yogyakarta.

Faktor-faktor tersebut juga membantu mereka dalam menyusun strategi untuk terus produktif selama pandemi.

Tentang riset dan temuannya

Kami wawancara secara mendalam 30 pekerja kreatif muda di Yogyakarta yang mewakili beberapa bidang kesenian yaitu film, tari, fotografi, fesyen (fashion), musik, dan teater.

Karena pandemi, kami menyeleksi para peserta dan berdiskusi kelompok terpumpun (focus group discussion (FGD)) secara daring.

Wawancara dan FGD tersebut kami lakukan pada Oktober 2020 sehingga hasil studi kami menggambarkan kurang lebih 8 bulan pertama pandemi di Indonesia.

Studi kami menemukan bahwa reaksi para pekerja kreatif ini bermacam-macam.

Ada yang terkejut karena harus menunda beberapa rencana mereka. Bahkan ada yang mulai merasa gelisah. Beberapa dari mereka yang masih kaget dan ada yang mencoba menyesuaikan diri. Yang lainnya ada yang memilih untuk melihat keadaan terlebih dulu karena merasa masih memiliki tabungan. Bahkan ada yang menemukan peluang bisnis baru selama pandemi.

Kami menemukan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan reaksi para seniman muda Yogyakarta yang beragam tersebut selama pandemi.

Faktor-faktor seperti kelas sosial, keterampilan diri dalam berkesenian dan berjejaring saling berpadu menentukan respons mereka.

Banyak narasumber yang memang harus berpaling ke sektor usaha lain untuk bertahan hidup selama pandemi karena penghasilannya berkurang sementara uang simpanan mereka terbatas.

Meyda Bestari (27) seorang seniman teater pertunjukan boneka yang harus mencari pekerjaan lain sebagai penerjemah dan konsultan web untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Sementara suaminya, Rangga, yang juga belajar teater di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, mengembangkan bisnis budi daya gecko yang ternyata membantu menyelamatkan ekonomi mereka.

Hal ini juga yang terjadi pada Danastri di atas.

Namun, terlepas dari segala keterbatasan pada masa pandemi, Danastri mampu tetap produktif karena dirinya memiliki akses yang cukup solid terhadap jaringan komunitas perfilman baik di Jakarta dan Yogyakarta yang memungkinkan dia tetap terlibat dalam beberapa proses produksi.

Jaringan sosial dengan pelaku seni lainnya penting dalam menentukan strategi pekerja kreatif muda ini untuk mempertahankan praktik berkesenian mereka selama pandemi.

Dokumentasi Youth Studies Centre, Fisipol UGM. Irwanda Putra (24) adalah penari profesional. Dia terlibat sebagai salah satu informan pada penelitian ini. Pada 8 Maret 2021 Irwanda membawakan komposisi tunggalnya dalam Festival 8x3 yang diselenggarakan secara kolaboratif bersama Tim Peneliti. Video dapat ditonton di https://www.youtube.com/watch?v=ObO_vq472v8&ab_channel=FisipolUGM.

Pembuat film dari Yogyakarta, Agni Tirta (35), adalah seorang pendiri rumah produksi Belantara Films dan saat ini adalah pemimpin Paguyuban Filmmaker Jogja (PFJ).

Meski selama pandemi Agni mengakui bahwa dirinya kehilangan beberapa pekerjaan, jaringan sosial yang telah dibangun secara berkelanjutan dengan orang-orang di Dinas Kebudayaan Yogyakarta membantunya menemukan peluang-peluang kerja baru selama pandemi.

Bersama dengan PFJ, Agni bisa mendapatkan insentif produksi film dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta untuk mendukung kerja-kerja pembuat film di Yogyakarta selama pandemi.

Agni yang sudah lama malang melintang di dunia perfilman di Yogyakarta tampaknya memiliki keahlian dan reputasi yang membantunya untuk bisa terus bertahan selama pandemi.

Namun, cerita Adrian Muhammad (31), seorang musisi asal Yogyakarta, menunjukkan bahwa memiliki keahlian bermusik saja tidak cukup.

Adrian adalah seorang musisi profesional yang menjadi pengiring orkestra kenamaan di Jakarta, namun dirinya harus kembali ke kampung halamannya Yogyakarta karena semua proyek pertunjukannya dihentikan selama pandemi.

Tapi terlepas dari keahliannya, Adrian harus mulai dari nol lagi di Yogyakarta karena dirinya kurang memiliki jaringan kesenian yang cukup solid, seperti Agni dan Danastri.

Sambil mencari-cari kesempatan, bapak dua anak ini sempat membangun bisnis jual beli mobil bekas dan bisnis makanan beku.

Namun keahlian Adrian bermusik selalu mendatangkan ide-ide segar untuk terus berkarya.

“Saya punya rencana untuk membuat lagu untuk anak kecil […] seperti lagu Naik-Naik ke Puncak Gunung dan berkolaborasi dengan seniman lain yang bisa membuat animasi,” ujarnya.

Apa yang bisa dilakukan?

Dari temuan di atas, kami menyimpulkan bahwa daya juang para pekerja kreatif muda di Yogyakarta cukup tinggi. Dengan segala keterbatasan selama pandemi, mereka tetap bisa beradaptasi dalam bidang masing-masing.

Bahkan beberapa di antaranya berhasil menciptakan strategi baru untuk tetap produktif selama pandemi.

Namun, cerita dari para pekerja kreatif yang kami wawancarai menunjukkan bahwa peran dan bantuan pemerintah masih diperlukan untuk terus mendukung keberlanjutan kerja-kerja kesenian mereka.

Dokumentasi Youth Studies Centre (YouSure) Fisipol UGM. Ini adalah pameran kolaborasi kreatif, yang merupakan bagian dari Festival 8x3. Kegiatan ini adalah proyek kolaboratif antara tim peneliti dengan pekerja kreatif muda yang terlibat dalam penelitian ini.

Dari cerita mereka, kami melihat pentingnya keberadaan kolektif yang beragam dan berkelanjutan untuk membantu para pekerja kreatif muda terhubung satu sama lain dan dengan pemangku kepentingan ekonomi budaya dalam skala nasional serta global. Istilah kolektif merujuk pada kumpulan individu yang bekerja sama, berbagi dan berkolaborasi.

Membangun kolektif yang berkelanjutan akan membantu pekerja kreatif muda karena mereka mengandalkan jejaring dan keterampilan berkesenian untuk menghadapi pandemi.

Para pekerja kreatif muda dapat menggunakan kolektif ini untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, terutama tentang pekerjaan dan peluang.

Mengingat keterampilan digital menjadi salah satu aspek penting bagi para pekerja kreatif muda untuk dapat bertahan selama pandemi, mereka bisa menggunakan kolektif untuk berbagi akses dan keterampilan berkesenian.

Selain itu, kolektif juga dapat mendorong spirit inovasi dan menemukan cara serta peluang baru dalam menampilkan produk keseniannya.

Dari sini, kami berharap Yogyakarta bisa menjadi proyek percontohan untuk menciptakan ekosistem kesenian yang berkelanjutan.

Ekosistem ini nantinya akan mencakup aspek digital dan non-digital dalam proses produksi dan distribusi karya kreatif yang bermuara pada kolaborasi lintas batas.

Riset ini didanai oleh pemerintah Australia melalui program PAIR program dari Australia-Indonesia Centre.

Australia-Indonesia Centre mendukung The Conversation Indonesia dalam penerbitan artikel ini.

Artikel sudah diperbaharui dengan koreksi terhadap nama salah satu responden. Nama yang benar adalah Danastri Rizqi Nabilah, bukan Danastri Rizky Nabilah seperti yang ditulis sebelumnya

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 138,000 academics and researchers from 4,224 institutions.

Register now