Menu Close
Seorang perempuan Amerika Serikat terinfeksi cacing parasit yang biasanya hinggap di dalam tubuh sapi. Bagaimana bisa? Shutterstock

Cacing sapi keluar dari mata: bagaimana bisa parasit binatang pindah ke tubuh manusia?

Beberapa waktu lalu, beredar satu video populer tentang seorang perempuan Amerika Serikat bernama Abby Beckley yang dari matanya keluar cacing. Para peneliti di Centers for Disease Control and Prevention mengatakan, kasus Beckley adalah kasus pertama di mana cacing mata sapi Thelazia gulosa menjalar ke orang.

Kita jelas bersimpati pada Beckley yang harus menanggung derita. Membayangkannya saja, kita merinding. Tetapi di luar faktor “mengerikan” kasus ini, ada pertanyaan: kok bisa parasit sapi hinggap ke mata manusia?

Pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana cara parasit hewan menginfeksi manusia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu lebih paham mengenai parasit dan ekologinya. Sebagai dokter hewan dan ahli ekologi penyakit, saya meneliti faktor-faktor ekologis apa yang mempengaruhi kemunculan zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia).

Parasitisme–pengetahuan dasar

Dalam pengertian paling dasar, parasit adalah sebuah organisme yang hidup menempel pada organisme lain (ektoparasit), atau bahkan hidup di dalam organisme lain (endoparasit).

Contoh ektoparasit misalnya kutu hewan, nyamuk, sementara contoh endoparasit misalnya cacing mata, cacing usus, atau parasit darah. Keduanya memanfaatkan organisme itu (“inang”) untuk kelangsungan hidup.

Mari kita pusatkan perhatian pada endoparasit.

Siklus kehidupan suatu endoparasit bisa sangat kompleks dan mungkin melibatkan banyak inang. Inang definitif adalah inang tempat parasit bereproduksi, sedangkan inang perantara—atau berbagai inang—menampung tahapan kehidupan yang belum dewasa dan non-produktif.

Ada jenis inang lain, disebut inang aksidental, yang juga diinfeksi tetapi bukan merupakan bagian siklus kehidupan reguler parasit. Nah, manusia adalah inang aksidental bagi cacing mata sapi.

Spesies parasit sangat beragam, bergantung pada kekhasan inang mereka, yang bisa mereka hinggapi selama tahapan kehidupan tertentu. Ada parasit yang sangat spesifik (satu inang) hingga yang sangat longgar (banyak spesies).

Berpindah dari inang hewan ke manusia

Perpindahan parasit dari satu inang ke inang lain bisa terjadi melalui beberapa rute, tergantung tempat parasit menetap dalam inang, serta cara penyebaran (feses, darah atau sekresi tubuh lainnya).

Di samping itu, perpindahan juga mungkin terjadi melalui kontak langsung, konsumsi air atau makanan tercemar (Cryptosporidium, Giardia), atau melalui vektor seperti kutu anjing atau nyamuk.

Infeksi parasit yang ditularkan dari hewan ke manusia sudah berlangsung secara alamiah sepanjang sejarah.

Sebelum ini orang yakin bahwa perlu ada perubahan evolusioner bagi parasit untuk berpindah inang. Itu betul, memang begitulah salah satu proses bagi perpindahan inang, tetapi penelitian menunjukkan bahwa mekanisme yang digunakan parasit untuk menyerang, bertahan hidup dan bereproduksi dalam satu inang mungkin juga bisa diterapkan pada berbagai macam inang.

Proses ini, disebut ecological fitting, menyebabkan perpindahan inang bisa terjadi lebih cepat tanpa perlu pengembangan mekanisme baru.

Manusia mempercepat proses itu dengan berkontribusi terhadap perubahan ekologi yang besar, sehingga selama abad terakhir kita melihat kemunculan penyakit zoonosis yang pesat. Bukan hanya dari parasit, melainkan juga bakteri dan virus.

Perubahan ekologis yang mencemaskan

Dalam ekologi penyakit, kita berpikir secara holistik tentang suatu penyakit, menelaah persimpangan patogen—dalam hal ini parasit—, inangnya, dan kondisi lingkungan tempat penyakit muncul.

Perubahan ekologi global (akibat pengaruh manusia) telah menggeser kesetimbangan banyak sistem penyakit—menimbulkan penyakit baru atau berpindahnya penyakit lama ke daerah baru atau inang baru.

Perubahan iklim juga menjadikan beberapa daerah lebih cocok bagi spesies tertentu, terutama di daerah-daerah beriklim sedang dan dataran tinggi. Ketika jangkauan sebuah spesies meluas, jangkauan parasitnya mungkin meluas juga, memberikan potensi baru penyebaran bagi spesies asli di suatu daerah.

Globalisasi dan meningkatnya perjalanan serta perdagangan internasional memudahkan pergerakan cepat manusia dan binatang di seluruh dunia. Spesies baru mungkin menetap di suatu daerah dan berkontribusi bagi transmisi patogen, dan spesies asli di daerah itu tidak memiliki kekebalan.

Perhatikan contoh angiostrongiliasis pada manusia. Disebabkan oleh cacing paru tikus, Angliostrongylus cantonensis, beberapa negara yang tadinya terbebas dari penyakit ini dilanda wabah karena masuknya inang perantara, bekicot, yang dikapalkan dalam peti kemas.

Foto tahun 2011 ini menunjukkan koleksi bekicot di Miami. Hewan ini memakan bangunan, menghancurkan tanaman, dan menyebabkan penyakit pada manusia. (AP Photo/J Pat Carter)

Urbanisasi dan perambahan manusia ke habitat margasatwa berperan meningkatkan kontak antara manusia dan hewan, memberikan peluang lebih besar bagi transmisi agen-agen infeksi, seperti parasit.

Semenanjung Malaysia mengalami peningkatan kasus malaria yang signifikan. Berbagai penyelidikan mengidentifikasi patogen itu sebagai Plasmodium knowlesi, yang secara alami terdapat pada monyet ekor panjang dan bisa ditularkan ke manusia oleh nyamuk. Deforestasi dan pesatnya pembangunan ekonomi di kawasan itu mendekatkan kontak manusia dengan primata tersebut.

Perubahan lanskap lain juga bisa mengubah drastis komunitas spesises dalam sebuah ekosistem. Penggembalaan berlebihan dan degradasi padang rumput di Tibet bertepatan dengan peningkatan dramatis kasus-kasus ekinokokosis alveolar. Mamalia kecil yang bertindak sebagai inang perantara bagi parasit kausatif Echinococcus multilocularis berkembang di lingkungan ini, memudahkan siklus transmisi.

Yang penting diketahui adalah, proses-proses di atas tidak hanya mempercepat perpindahan dari hewan ke manusia. Parasit bisa masuk ke dalam populasi margasatwa akibat aktivitas manusia.

Hal ini sangat berbahaya bagi spesies rentan, yang mungkin sudah terancam karena perubahan ekologi terus-menerus. Wabah toksoplasma pada berang-berang laut di California dan marsupial di Australia diyakini disebabkan oleh pencemaran air akibat feses kucing domestik. Pencemaran ini terjadi karena campur tangan manusia.

Seekor anjing laut jenis Hawaiian monk seal, spesies yang terancam punah, terbaring di pantai Waikiki, Honolulu, pada tahun 2015. Para konservasionis menyayangkan banyaknya kucing liar yang berkeliaran di Hawaii karena feses kucing yang masuk ke laut bisa menyebabkan toksoplasma, yang efeknya bisa mematikan bagi anjing laut. (AP Photo/Audrey McAvoy)

Diperlukan pendekatan kolaboratif

Kita tahu bahwa kemunculan infeksi parasit zoonosis adalah persoalan kompleks. Tidak hanya melibatkan kesehatan manusia, tapi juga kesehatan hewan dan lingkungan hidup.

Ini berarti perlu upaya bersama untuk memahami, mengontrol dan mencegah penyakit-penyakit tersebut, dan kita harus bahu-membahu menangani perubahan ekologi yang mungkin memiliki dampak berarti terhadap kesehatan manusia dan hewan di masa depan.

Untuk saat ini, sulit diketahui apakah cacing mata sapi Thelazia gulosa akan menjadi persoalan bagi manusia. Sejarah mencatat, ada transmisi aneh patogen yang kemudian tidak terlihat lagi atau jarang muncul kembali.

Tetapi kisah Abby Beckley ini penting agar kita meningkatkan kesadaran dan tetap waspada terhadap risiko potensial.

Ikram Putra menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,500 academics and researchers from 3,846 institutions.

Register now