Menu Close
Seorang ayah berbincang dengan anak remajanya. pixelheadphoto digitalskillet/Shutterstock

Cara mendiskusikan topik yang menantang dengan anak remaja kita

Percakapan penting dengan remaja menjadi salah satu tantangan dalam pengasuhan. Obrolan-obrolan ini rasanya bisa seperti berjalan di atas tali tambang. Terlalu banyak – atau terlalu sedikit – memberikan perintah dan batasan bisa membuat diskusi sensitif semacam ini berjalan kurang mulus.

Saat mempersiapkan artikel ini, saya meminta putri saya memberikan nasihat untuk para orang tua yang memiliki anak remaja. Responsnya adalah bahwa “remaja bisa frustrasi jika orang tua tidak mendengarkan mereka dengan baik, atau mengatakan satu hal tetapi justru melakukan hal lain. Pikirkan dulu apa yang ingin kamu katakan jauh sebelum kamu mengatakannya kepada anak remajamu.”

Yang mengejutkan, intuisinya selaras dengan temuan berbagai penelitian (dan saya menduga itu adalah pesan darinya untuk saya juga).

Berdiskusi dengan anak remaja bisa menjadi sulit karena berbagai alasan. Pertama, masa remaja adalah masa ketika anak muda tengah mencari identitas mereka sendiri. Dalam bereksperimen dengan berbagai bagian identitas tersebut, mereka sering kali membuat keputusan tanpa diketahui orang tua mereka, dan beberapa di antaranya cukup berisiko.

Namun, anak remaja masih bergantung pada orang tua mereka, serta masih membutuhkan kasih sayang dan persetujuan orang tua – bahkan ketika mereka tidak mau mengakuinya. Obrolan yang bisa memfasilitasi kebutuhan yang kompleks ini sering kali membutuhkan fleksibilitas, daya tanggap, dan kesabaran.

Para peneliti masih mempelajari tentang bagaimana orang tua dapat mendukung kebutuhan anak remaja mereka dengan sebaik-baiknya, tetapi penelitian yang dilakukan sejauh ini menunjukkan beberapa hal penting yang perlu dicatat.

Sering-seringlah membicarakan topik yang rumit

Bicaralah dengan anak remajamu sesering mungkin dan dengan menunjukkan antusiasme. Libatkan mereka dalam topik yang mereka rasa penting atau berkaitan dengan mereka.

Umumnya anak remaja akan lebih terbuka ketika mereka merasa bisa berbicara dengan orang tua yang tidak menghakimi mereka tentang topik-topik penting.

Selain kualitas percakapan, frekuensi juga penting. Lebih sering memulai percakapan akan membuat anak remaja mau berbagi lebih banyak hal dengan kita.

Sebagai persiapan memulai pembicaraan, ada baiknya kamu membangun pemikiran bahwa kamu memang berminat mendengarkan anakmu, serta menghargai dan mempercayai mereka, bahkan sebelum memulai perbincangan yang berat.

Dengarkan dengan kasih sayang

Penelitian saya menunjukkan bahwa mendengarkan anak remaja dengan sebaik-baiknya dapat membuat mereka lebih bahagia dan, ke depannya, bersedia untuk berbagi lebih banyak hal lagi padamu.

Untuk mendengarkan dengan baik, kamu sebaiknya benar-benar “hadir” untuk mendengar apa yang dikatakan anakmu, mencoba memahami masalah dari sudut pandang mereka dan menyampaikan bahwa kamu menghargai dan mencintai mereka – bahkan jika kamu belum tentu setuju dengan apa yang telah mereka lakukan atau apa yang mereka katakan.

Ayah dan anak perempuan duduk di sofa sambil berbincang dan tersenyum
Dengarkan dengan pikiran terbuka. Ground Picture/Shutterstock

Dalam mendengarkan, bukan berarti orang tua harus menyetujui permintaan anak tanpa alasan yang kuat. Di awal percakapan, kamu bisa lebih dulu menjelaskan pada anakmu perbedaan antara “ingin memahami” dengan “siap sedia mengakomodasi keinginan mereka”.

Jelaskan alasanmu

Sekadar mendengarkan saja memang tidak selalu cukup. Orang tua juga diharapkan bisa menanggapi dan mengarahkan, tindakan anak remaja mereka. Tapi, caramu mengarahkan mereka dapat membantu mereka memahami makna di balik permintaan dari orang tua, tak hanya sebatas sebagai perintah.

Misalnya, orang tua bisa saja memberikan perintah: “Letakkan ponselmu sekarang!” Tapi, mereka juga bisa meminta mereka melakukannya sembari menjelaskan: “Sebaiknya kamu meletakkan ponselmu saat kita sedang menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga. Ini penting agar kita bisa saling berbincang.”

Dengan menjelaskan keputusanmu dan permintaanmu, memang tidak serta merta akan membuat anakmu langsung setuju tanpa protes. Tetapi, paling tidak, cara ini dapat membantumu menyampaikan nilai-nilaimu. Ini juga memberikan anakmu kesempatan untuk memutuskan mereka akan berperilaku seperti apa.

Hal ini pada akhirnya akan membantu mereka untuk menginternalisasi atau menerima aturan dan norma orang tua.

Perhatikan nada bicaramu

Yang penting bukan hanya tentang apa yang kamu, sebagai orang tua, katakan pada anakmu, tapi juga tentang bagaimana caramu mengatakannya.

Penelitian saya menunjukkan bahwa nada suara yang hangat, merangkul, dan lembut dapat diterima dengan lebih baik oleh remaja. Ini karena nada suara yang demikian dapat membantu mereka memahami pesan orang tua, merasakan emosi positif, dan merasa terhubung dengan orang tua mereka.

Sebaliknya, nada suara yang cenderung menekan dapat membuat mereka merasa terasingkan dan merusak upaya komunikasi efektif yang seharusnya bisa memicu perubahan positif.

Pikirkan juga kesehatanmu sendiri

Mendengarkan dengan baik, serta menggunakan nada suara dan kata-kata yang ideal untuk menyampaikan pesan kepada remaja, bisa jadi sulit bagi orang tua ketika sedang lelah, berada dalam tekanan, atau sedang menghadapi perilaku yang menantang dari anak-anak mereka .

Oleh karena itu, melakukan pembicaraan penting setelah istirahat yang cukup, atau setidaknya lebih dulu menarik napas dalam-dalam, bisa jadi lebih bermanfaat orang tua maupun anak. Cara ini dapat membantumu untuk mengenali suasana hatimu sendiri, sehingga kamu dapat menghnidari diskusi penting ketika pikiran sedang penat.

Penting juga untuk berhati-hati terhadap rasa terancam dan rasa takutmu sendiri yang bisa timbul selama perbincangan dengan anakmu. Emosi-emosi ini bisa menghambat sikap responsif, kasih sayang, namun tetap dengan ketegasan – sesuai kebutuhan – yang dibutuhkan orang tua saat diskusi menjadi alot.

Pahami bahwa percakapan tidak serta merta menyelesaikan semua masalah

Ketika masa remaja, anakmu sedang menempuh perjalanan untuk bertumbuh. Sering kali, perjalanan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kepribadian, pengaruh teman sebaya, dan kesehatan mental yang sering kali kompleks.

Orang tua tentu punya kemampuan untuk mendorong remaja untuk berbicara tentang masalah yang mempengaruhi mereka, dan mendukung kebahagiaan mereka. Tetapi, orang tua juga berhak untuk menyayangi diri mereka sendiri seperti mereka menyayangi anaknya. Tidak ada orang tua yang sempurna; yang bisa mereka lakukan adalah melakukan yang terbaik.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 182,200 academics and researchers from 4,941 institutions.

Register now