Menu Close
Petani menunjukkan hasil budi daya rumput lautnya di Bone, Sulawesi Selatan. ANTARA FOTO/Yusran Uccang/ss/aww/15.

Fleksibilitas petani menjadikan Indonesia pemain utama di pasar rumput laut global, meski masih banyak yang harus dikerjakan

Artikel ini dipublikasikan dalam rangka Hari Perikanan Dunia yang jatuh pada 21 November

Indonesia adalah penghasil rumput laut yang mengandung gel hidrokoloid terbanyak di dunia. Jenis rumput laut tersebut disebut rumput laut hidrokoloid.

Rumput laut hidrokoloid merupakan rumput laut yang diekstrak gelnya dan memiliki banyak kegunaan, termasuk sebagai pengental dalam industri pengolahan makanan dan industri pembuatan obat.

Pengolahan rumput laut hidrokoloid ini berbeda dengan produk makanan dari rumbut laut yang diproduksi oleh Cina, Korea Selatan, Korea Utara, dan Jepang.

Produksi global rumput laut hidrokoloid utama. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO)

Pada tahun 2017, Indonesia memproduksi rumput laut hidrokoloid sebanyak 66% dari total rumput laut hidrokoloid dunia. Provinsi Sulawesi Selatan adalah daerah penghasil jenis rumput laut terbanyak yang berkontribusi terhadap lebih dari 20% suplai rumput laut hidrokoloid dunia.

Volume produksi rumput laut di Indonesia. Data BPS tahun 2019

Indonesia memiliki iklim tropis yang mendukung dan garis pantai yang panjang. Kedua hal tersebut membuat Indonesia mampu berperan penghasil utama rumput laut hidrokoloid global.

Selain itu, berdasarkan penelitian terbaru kami, suksesnya industri rumput laut Indonesia berhubungan erat dengan kemampuan petani rumput laut dalam melakukan budi daya rumput laut dalam kondisi musim yang ekstrem.

Hasil penelitian

Pada tahun 2017-2020, hasil data satelit dari penelitian kami di Kabupaten Pangkep di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa, lebih dari 50% produksi rumput laut tahunan terbentuk hanya dalam waktu tiga bulan.

Pada tahun 2018, lebih dari 90% produksi rumput laut dilakukan dalam enam bulan pertama, dan akan menghasilkan rumput laut sebanyak empat kali lipat lebih banyak dari pada produksi pada musim yang buruk.

Produksi rumput laut daratan Pangkep pada 2018. Data dari Planet.com

Keadaan musim yang tidak menentu sepanjang tahun, memaksa para petani rumput laut untuk fleksibel dalam pekerjaannya. Petani rumput laut menyiasati adanya perubahan musim ini dengan cara menumbuhkan rumput laut pada ikatan tali dan menggantungnya di laut paling tidak selama enam minggu.

Dalam kurun waktu tersebut, petani harus membersihkan rumput laut untuk menghilangkan ganggang laut jenis lain dan memastikan rumput lautnya tidak dimakan oleh makhluk laut yang lain.

Petani rumput laut biasanya menghabiskan beberapa jam setiap hari untuk merawat rumput laut dengan memperhatikan waktu pasang surut air laut.

Oleh karena industri rumput laut sangat tergantung dengan musim (dengan perbedaan terbesar terletak di antara musim hujan dan kemarau), petani rumput laut dituntut untuk bisa membaca kondisi laut dan menyikapi perubahan yang terjadi dengan cara mengatur waktu tanam rumput laut, dengan cara memajukan atau memundurkan jadwal penanaman.

Kemampuan petani dalam membaca perubahan musim ditambah dengan biaya budi daya rumput laut yang murah, menjadikan petani Indonesia sangat kompetitif di pasar rumput laut hidrokoloid.

Foto oleh Queen Lj on Unsplash

Mengatasi tantangan

Kondisi cuaca sangat mempengaruhi pertumbuhan rumput laut dan jenis penyakit yang bisa mengurangi jumlah produksi. Pada musim hujan, petani rumput laut juga merasa kesulitan dalam mengeringkan rumput laut. Padahal kualitas dan (harganya) rumput laut tergantung dari kadar air dan kontaminannya. Alat dan teknik pengering yang kurang berkualitas bisa mengurangi kualitas rumput laut secara signifikan sehingga tidak mudah untuk mendapatkan hasil dari budidaya rumput laut di Indonesia.

Petani juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan kualitas genetik rumput laut mereka dalam beberapa musim. Meskipun petani mampu menghasilkan rumput laut yang berkualitas, seringkali harga jual yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan kualitas rumput laut yang dihasilkan. Pada sistem pasar rumput laut yang belum stabil, seringkali petani dirugikan, Beberapa oknum mencampur rumput laut berkualitas tinggi dengan yang berkualitas rendah, dan keduanya dijual dengan harga yang sama. Saat harga rumput laut sangat rendah, petani semakin tidak tertarik untuk memproduksi rumput laut yang berkualitas tinggi seperti yang diinginkan para pengolah.

Benih rumput laut diikat ke tali dengan pelampung botol plastik. Alexandra Langford

Meski banyak tantangan, industri rumput laut di Indonesia memiliki potensi yang tinggi. Petani masih bisa mendapatkan keuntungan lebih tinggi dari hasil budidaya rumput laut dari pada mata pencaharian lainnya.

Peningkatan pendapatan dari hasil budidaya rumput laut ini juga dapat menambah nutrisi, membuka akses pendidikan, dan meningkatkan daya beli untuk membeli kebutuhan rumah tangga.

Teknologi budi daya rumput laut telah berkembang secara signifikan, petani dapat menanam rumput laut di di lautan yang lebih dalam.

Di Indonesia, petani juga menemukan cara yang lebih efisien untuk memasang rumput laut ke tali. Namun demikian, perkembangan teknologi dan pemasaran yang lebih efektif dibutuhkan agar membantu petani rumput laut dalam meningkatkan pendapatan mereka.

Rekomendasi

Untuk meningkatkan industri rumput laut, Indonesia harus bisa mengembangkan sistem pasar yang bisa mengelola risiko dan mengatur perbedaan tingkat harga, berdasarkan standar, uji coba, aturan, dan mendekatkan hubungan di antara petani, pedagang, dan pengolah.

Meningkatkan kualitas produk gel yang dihasilkan bisa dilakukan dengan berinvestasi pada teknologi baru yang bisa memberikan nilai tambah. Hal tersebut membutuhkan penelitian dan pengembangan, serta dukungan dari investasi asing untuk mengakses teknologi yang dibutuhkan.

Photo oleh Wolfgang Hasselmann di Unsplash

Cara lain yang dipilih oleh pembuat kebijakan adalah mengembangkan produk lain dari rumput laut, seperti makanan, pupuk, obat-obatan, dan bahan bakar yang lebih murah.

Cara-cara tersebut bisa memasukkan jenis rumput laut baru ke dalam rantai produksi yang ada sehingga memberikan pilihan bagi petani terkait jenis rumput laut apa yang akan dibudidayakan. Upaya tersebut juga bisa membantu memperluas jenis produk yang dihasilkan dan berpotensi meningkatkan harga dan melindungi petani dari goncangan ekonomi global seperti krisis COVID-19.

Mengembangkan produk rumput laut yang baru akan memerlukan investasi berkelanjutan di sektor penelitian dan pengembangan. Untuk memastikan manfaat pengembangan teknologi ini bisa sampai ke petani, mereka harus dibantu untuk mendapatkan akses pada pasar yang bisa menawarkan harga yang lebih tinggi.


Proyek penelitian interdisipliner kami dalam Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) berfokus pada pengembangan hasil industri rumput laut Indonesia di Sulawesi Selatan. Dalam konferensi digital PAIR tersebut, kami berdiskusi tentang peran rumput laut yang penting bagi ekonomi Sulawesi Selatan dan masyarakatnya. Untuk belajar lebih jauh terkait hal ini dan hasil kerja tim peneliti Indonesia dan Australia, Anda bisa membaca lebih detail dan mendaftar di sini._

Ignatius Raditya Nugraha menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 119,900 academics and researchers from 3,852 institutions.

Register now