Menu Close

‘Kerja dari Bali’: 5 cara undang pekerja dari negara lain untuk datang ke Bali

Fikri Yusuf/Antara Foto

Pemerintah Indonesia belum lama ini mengumumkan rencana memindahkan ribuan aparat sipil negara (ASN) untuk bekerja dari Bali untuk membantu pemulihan ekonomi di pulau wisata itu.

Jika pemerintah berhasil memvaksin seluruh warga Bali, maka rencana ini cukup masuk akal.

Hotel dan restoran berjuang setengah mati untuk tetap hidup. Tingkat hunian hotel tercatat rata-rata hanya 10% pada empat bulan pertama 2021 - hanya sepertiga dari rata-rata national.

Antara Januari dan Mei tahun ini, kedatangan wisatawan asing langsung ke Bali tercatat hanya 34 orang; bandingkan dengan angka 2,3 juta orang pada periode yang sama 2019. Jumlah wisatawan domestik turun dari 1,8 juta pada 2019 menjadi 570.000.

Selain mendatangkan ASN berlaptop ke Pulau Dewata, pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan juga untuk membuka Bali ke dunia dan menjadikannya “Pulau Zoom”.

Memanfaatkan tren bekerja jarak jauh di dunia

Pandemi selama satu tahun lebih telah mengubah cara pandang kita pada pekerjaan.

Survei LinkedIn Workforce Confidence menemukan bahwa setengah (50%) responden mengatakan bahwa jam kerja atau tempat kerja yang fleksibel semakin penting bagi mereka.

Perusahaan mulai beradaptasi dengan kenyataan baru ini. Perusahaan teknologi besar seperti Facebook dan Twitter telah menerapkan bekerja jarak jauh untuk jangka panjang.

Tren bekerja jarak jauh akibat COVID-19 ini mendorong berjamurnya “Kota Zoom”.

Kota-kota Zoom di Amerika Serikat adalah fenomena ketika pusat-pusat wilayah mengalami peningkatan pekerja jarak jauh menggunakan alat-alat pertemuan via internet seperti Zoom.

Beberapa tempat mengambil keuntungan dari fenomena ini, seperti Bali. Bali memiliki fasilitas dan lokasi strategis untuk mengambil keuntungan dari berubahnya dunia kerja.

Pada 2019, Bali memiliki hampir 5.000 “digital nomads” (orang-orang yang seorang yang bekerja secara digital dari tempat mana pun yang mereka pilih mandiri), tertinggi di Asia Tenggara. Kota-kota lain seperti Yogyakarta juga tertarik untuk menangkap pasar digital nomad ini.

Pegawai hotel membersihkan are bekerja di Marriott Bali Nusa Dua Resort. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.

Bahkan beberapa pencipta hit musik terbesar dunia - seperti M-Phazes (yang memproduseri Eminem, Kimbra), Detal Goodrem, dan Trey Campbell (Dua Lipa, Bebe Rexha) - menghabiskan waktu di Bali untuk merekam album atau lagu hit.

Lima rekomendasi

Untuk menarik pekerja jarak jaruh dari seluruh dunia ke Bali, kami menawarkan lima usulan yang mungkin bisa diterapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pertama, targetkan untuk memvaksin seluruh penduduk Pulau Bali.

Distribusi vaksin COVID-19 sedang berjalan.

Pada Juli, sekitar 2,8 juta penduduk Bali di atas 18 tahun - lebih dari 60% penduduk pulau itu - diperkirakan sudah divaksin.

Target ini semakin penting karena Indonesia saat ini mengalami peningkatan jumlah kasus paling pesat dalam sejarah pandemi.

Kedua, memperluas cakupan internet ke seluruh Pulau Bali.

Kecepatan, kapasitas, dan keandalan sambungan internet penting bagi performa kerja.

Menurut perusahaan pemasaran We Are Social, kecepatan rata-rata sambungan internet lewat kabel di Indonesia adalah 23.32 Mps, jauh dibawah rata-rata global 96.43 Mps.

Kecepatan internet di jaringan mobile 17.26 Mbps, masih di bawah rata-rata global 42.70 Mbps.

Sebagai bandingan, Thailand memiliki kecepatan internet kabel 308.35 Mbps dan internet mobile 51.75 Mbps.

Ketiga, memperbolehkan visa jangka lebih panjang tanpa pembaharuan 30 hari.

Kewajiban untuk keluar dan masuk lagi ke Indonesia setiap 30 hari untuk memperbaharui visa turis sangatlah merepotkan dan mahal.

Pekerja jarak jauh dan pemberi kerja tidak akan tertarik membayar biaya terbang keluar-masuk Indonesia setiap bulan akibat batasan visa. Adanya biaya ini juga mengurangi pengeluaran harian yang mereka lakukan di dalam ekonomi Indonesia.

Pada Oktober tahun lalu, pemerintah Indonesia memperkenalkan kebijakan baru yang memperbolehkan pensiunan untuk tinggal di Indonesia dalam kategori baru tinggal sementara (pemegang KITAS). Kebijakan ini perlu diperluas juga untuk mencakup pekerja jarak jauh.

Indonesia telah memiliki aturan rinci yang memperbolehkan pekerja asing dengan jaminan perusahaan lokal. Pengunjung yang menjamin dirinya sendiri seperti halnya para digital nomad tentu tidak termasuk di situ dan harus menggunakan visa turis yang tidak sesuai dengan tujuan mereka.

Keempat, memperkenalkan insentif dan layanan khusus.

Di AS, wilayah-wilayah seperti Northwest Arkansas dan Tucson, Arizona, telah berinvestasi untuk menarik pekerja jarah jauh dari kota-kota AS lain dan dari seluruh dunia.

November lalu, Northwest Arkansa meluncurkan inisiatif senilai 1,5 juta dolar (Rp 21,6 miliar) untuk menarik pekerja. Inisiatif itu menarik 26.000 pelamar dari 50 negara bagian dan 115 negara.

Northwest Arkansas menawarkan mereka yang lolos uang sebesar 10.000 dolar (Rp 144 juta) dan sepeda gratis kalau mereka bersedia pindah ke sana selama satu tahun.

Tucson menawarkan program serupa, “Remote Tuscon”. Program itu menawarkan insentif sebesar $7.500 (Rp 108 juta) termasuk uang pindah, internet satu tahun, tempat kerja, dan staf khusus yang akan membantu mereka pindah.

Bahkan Finlandia - sebuah negara yang gelap, dingin, dan berangin, tapi negara paling bahagia di dunia - memiliki rencana radikal untuk menarik pekerja dari seluruh dunia.

Kelima, incar generasi milenial di bidang sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika.

Satu lagi tren penting dalam ketenagakerjaan adalah revolusi talenta yang sedang terjadi.

Kompetisi untuk mendapatkan pekerja terampil akan meningkat.

Pekerja terampil muda, terutama di bidang science, technology, engineering, arts and maths (STEAM) akan menuntut fleksibilitas kerja yang lebih tinggi.

Sebuah survei pada fleksibilitas dan kerja menemukan bahwa setengah (54%) pekerja dari seluruh dunia memilih berhenti kerja kalau tidak mendapatkan fleksibilitas setelah pandemi usai.

Sembilan dari 10 responden menginginkan fleksibilitas tempat dan waktu bekerja; generasi milenial dua kali lebih besar kemungkinannya untuk berhenti kerja dibanding generasi baby boomer. Di dalam pasar pekerja terampil yang sempit, tidak akan ada perusahaan yang bersedia kehilangan talenta-talenta terbaik.

Sepuluh finalis pertama untuk program Remote Tucson - yang bekerja untuk perusahaan seperti Apple, Pfizer, Facebook dan LinkedIn - sudah mulai tiba; 25 finalis putaran kedua akan pindah ke sana pada beberapa bulan ke depan.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 133,700 academics and researchers from 4,154 institutions.

Register now