Menu Close
Seekor hiu berenang dekat terumbu karang
Shutterstock

Makhluk laut di ekuator berpindah ke tempat yang lebih dingin. Sejarah tunjukkan ini bisa berujung pada kepunahan massal

Perairan tropis di kawasan ekuator terkenal dengan keragaman kehidupan laut di Bumi, memiliki terumbu karang berwarna-warni dan ikan tuna, penyu laut, pari manta dan hiu paus.

Jumlah spesies laut secara alami akan berkurang di wilayah yang semakin dekat ke kutub-kutub.

Para ahli ekologi sebelumnya berasumsi bahwa pola global ini akan tetap stabil selama beberapa abad. Sekarang, asumsi ini sudah berubah.

Studi terbaru kami menemukan bahwa lautan di sekitar ekuator telah menjadi terlalu panas bagi spesies untuk bertahan hidup. Ini akibat pemanasan global.

Singkatnya, pola global kini berubah sangat cepat.

Dan, ketika spesies berpindah ke perairan dingin, menuju kutub, maka akan ada dampak besar bagi ekosistem laut dan mata pencaharian manusia.

Ketika hal serupa terjadi sekitar 252 juta tahun lalu, setidaknya 90% dari semua spesies laut mati.

Kekayaan spesies dalam bahaya

Pola global ini, di mana jumlah spesies sedikit di area kutub dan lebih banyak di area ekuator, menghasilkan gradien kekayaan spesies yang berbentuk menyerupai lonceng.

Kami meneliti catatan distribusi dari hampir 50.000 spesies laut dari tahun 1955 dan menemukan ada penurunan yang cukup tajam.

Grafik dengan 3 garis yang saling beririsan, masing-masing mewakili dekade yang berbeda. Ini menunjukkan antara tahun 1955 dan 1974, kurva hampir rata di bagian atas. Untuk garis 1975-1994 dan 1995-2015, penurunan terlihat lebih dalam, dengan puncak pada setiap sisi di bagian tengah.
Apabila kita lihat setiap garis pada grafik ini, bisa terlihat penurunan dalam untuk kekayaan spesies antara 1955 dan 1974. Ini semakin mendalam pada beberapa dekade selanjutnya. Anthony Richardson, Author provided

Jadi, saat lautan menghangat, para penghuni laut mencari suhu yang mereka inginkan dengan cara berenang ke arah kutub.

Meskipun pemanasan di ekuator sebesar 0.6℃ selama 50 tahun terakhir masih relatif rendah, spesies tropis harus berpindah untuk menjaga suhu tubuh mereka.

Saat pemanasan laut meningkat selama beberapa dekade karena perubahan iklim, penurunan di sekitar ekuator semakin tajam.

Kami memprediksi perubahan semacam ini sekitar 5 tahun lalu menggunakan pendekatan modeling, dan kini kami sudah memiliki bukti hasil observasi.


Read more: The ocean is becoming more stable – here's why that might not be a good thing


Untuk setiap 10 grup spesies utama yang kami pelajari, termasuk ikan pelagis, ikan karang dan moluska, yang hidup di perairan atau dasar laut, jumlah mereka tetap atau sedikit menurun pada wilayah dengan suhu permukaan laut tahunan rata-rata di atas 20℃.

Saat ini, kekayaan spesies terbesar berada di belahan bumi utara pada garis lintang sekitar 30°LU (lepas pantai Cina bagian selatan dan Meksiko) dan di selatan sekitar 20°LS (lepas pantai Australia bagian selatan dan Brasil bagian selatan).

gerombolan ikan tuna.
Perairan tropis di ekuatorial terkenal memiliki keragaman kehidupan lautan, termasuk ikan tuna. Shutterstock

Sudah pernah terjadi

Kita seharusnya tidak terkejut bahwa keanekaragaman hayati global akan bereaksi terhadap pemanasan global.

Ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan memiliki akibat yang dramatis.

252 juta tahun lalu…

Pada akhir periode Permian, sekitar 252 juta tahun lalu, suhu global menghangat hingga 10℃ selama 30.000-60.000 tahun sebagai hasil dari emisi gas rumah kaca akibat letusan gunung api di Siberia.

Sebuah studi pada tahun 2020 dari fosil yang ditemukan masa itu menunjukkan puncak keanekaragaman hayati di kawasan ekuator mendatar dan tersebar. Pada masa ini, pengaturan ulang besar-besaran pada biodiversitas global menyebabkan sehingga 90% dari spesies laut mati.

125.000 tahun lalu…

Studi tahun 2012 menunjukkan selama pemanasan yang cepat sekitar 125.000 tahun lalu, ada perubahan yang mirip dari terumbu karang yang menjauhi daerah tropis, seperti terdokumentasikan pada catatan fosil.

Hasil ini merupakan pola yang sama dengan yang kami gambarkan, meski pun tidak ada hubungan dengan kepunahan massal.

Penulis dari studi tersebut menyebutkan bahwa hasil mereka mungkin meramalkan dampak dari pemanasan global saat ini, memperingatkan adanya kepunahan massal di masa depan ketika spesies berpindah ke daerah subtropis, di mana mereka harus berjuang untuk hidup dan beradaptasi.

Masa kini…

Sepanjang zaman es yang terakhir, yang berakhir sekitar 15.000 tahun lalu, keragaman foram (sejenis cangkang keras dan plankton bersel satu) meningkat di kawasan ekuator dan menurun drastis kemudian.
Ini penting karena plankton adalah spesies kunci dalam jaring makanan.

Studi kami menunjukkan bahwa penurunan tajam pada beberapa dekade belakangan akibat perubahan iklim dari kegiatan manusia.

Dampak yang besar

Kehilangan spesies di ekosistem tropis berarti resiliensi ekologis atas perubahan lingkungan telah menurun, sehingga mengancam keberlanjutan ekosistem.

Kekayaan spesies di ekosistem subtropis justru meningkat.

Ini berarti akan ada spesies invasif, interaksi antara predator dan mangsa yang baru, dan hubungan kompetisi yang baru.

Misalnya, ikan tropis yang memasuki area iklim baru akan berkompetisi dengan spesies setempat untuk makanan dan habitat.

Ini bisa menghasilkan runtuhnya ekosistem, seperti yang kita lihat di pergantian antara periode Permian dan Triassic, di mana spesies punah dan pasokan ekosistem (persediaan makanan) berubah permanen.

Pria mengurai jaring ikan
Di Indonesia, industri perikanan merupakan salah satu kontributor ekonomi terbesar. EPA/HOTLI SIMANJUNTAK

Perubahan yang kami gambarkan juga akan memiliki dampak besar bagi mata pencaharian manusia.

Sebagai contoh, negara-negara kepulauan tropis bergantung kepada pemasukan dari armada pemancingan tuna dengan menjual izin di perairan mereka.

Spesies tuna dengan mobilitas tinggi sangat mungkin berpindah cepat ke wilayah subtropis, melampaui batas-batas negara.


Read more: Tropical fisheries: does limiting international trade protect local people and marine life?


Sama halnya dengan ikan karang yang penting bagi nelayan artisanal, dan megafauna dengan mobilitas tinggi seperti hiu paus, pari manta dan penyu laut yang menjadi pendukung wisata, akan berpindah ke daerah subtropis.

Pergerakan ikan komersial dan artisanal serta megafauna dapat memberikan hambatan bagi kemampuan negara-negara tropis untuk memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait kelaparan dan kehidupan laut.

Apa yang bisa kita lakukan?

Salah satu cara sudah tercantum dalam Perjanjian Iklim Paris dan ini melibatkan penurunan emisi secara agresif.

Ada pula cara-cara lain yang juga muncul yang bisa menjaga biodiversitas dan meminimalkan dampak terburuk dari perpindahan menjauhi ekuator.

Saat ini baru 2,7% laut yang mendapatkan perlindungan secara penuh.

Ini masih jauh dari target 10% pada tahun 2020 di bawah Konvensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati.

Pari manta dengan ikan lainnya
Pari manta dan megafauna lainnya meninggalkan ekuator akan memiliki dampak besar bagi pariwisata. Shutterstock

Namun, 41 negara sedang mendorong target baru untuk melindungi 30% dari kawasan lautan pada tahun 2030.

Target “30 by 30” ini bisa melarang pertambangan dasar laut dan perikanan di kawasan lindung yang bisa menghancurkan habitat dan melepaskan karbon dioksida sama seperti dunia penerbangan global.

Langkah-langkah ini bisa menghilangkan tekanan terhadap keanekaragaman hayati dan mendorong resiliensi ekologis.

Merancang kawasan lindung yang sadar iklim juga bisa melindungi biodiversitas dari perubahan di masa depan.

Misalnya, kawasan lindung untuk kehidupan laut bisa berada di tempat pengungsian di mana iklim lebih stabil di masa depan.

Kita memiliki bukti bahwa perubahan iklim memengaruhi pola global terkuat di ekologi. Sehingga, kita tidak boleh menunda aksi-aksi mitigasi.

Tulisan ini bagian dari Oceans 21
Serial kami terkait lautan global yang dibuka dengan 5 profil samudra. Nantikan artikel-artikel baru terkait keadaan laut dunia menjelang konferensi iklim PBB berikutnya, C0P26. Serial ini merupakan persembahan dari jaringan internasional The Conversation.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 126,700 academics and researchers from 4,018 institutions.

Register now