Glaukoma adalah penyakit licik yang kadang dianggap sebagai kurangnya perhatian atau kaburnya pengelihatan karena usia, jika tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kebutaan. Shutterstock

Memahami bahaya glaukoma, penyakit penyebab kebutaan

Seperti tekanan darah tinggi, glaukoma adalah penyakit yang licik.

Glaukoma berkembang tanpa memunculkan gejala yang jelas bagi sebagian orang, namun konsekuensinya sangat fatal: penyakit ini dapat menyebabkan kebutaan.

Glaukoma menyerang 6% ras Kaukasia yang berusia di atas 70 tahun dan angka ini terus meningkat secara signifikan tiap dekadenya. Kelompok lansia dari ras Afrika-Amerika merupakan yang paling merasakan dampaknya dengan tingkat prevalensi mereka sebesar 17%, sementara ras Asia tampaknya relatif terlindungi, karena penyakit ini hanya mempengaruhi 3% dari populasi mereka.

Apakah artinya kita tidak perlu khawatir terhadap glaukoma sampai kita berusia lanjut? Tentu tidak, terutama jika anggota keluarga seperti ayah, ibu, saudara kandung atau kakek-nenek telah terserang glaukoma terlebih dahulu.

Tanyakan pada Brian yang tidak pernah menduga hal ini akan terjadi padanya.

Beberapa pertanda

Dalam kasus ini, Brian adalah nama fiktif, tetapi ia memiliki kisah yang sangat nyata. Dia adalah pria kulit hitam berusia 45 tahun. Dia sehat, tidak minum obat apa pun, dan bekerja sebagai operator di sebuah gudang. Dalam beberapa tahun terakhir, Brian menyadari ia terkadang menabrak sesuatu dengan mesinnya, tetapi dia menganggap hal tersebut disebabkan oleh kecerobohan atau pencahayaan yang buruk. Dia tidak bertindak apa pun sampai atasannya memintanya untuk memeriksakan penglihatannya.

Brian berpikir pergi memeriksakan penglihatannya adalah ide yang bagus, terutama karena dia merasa kesulitan membaca dokumen penting dalam pekerjaannya. Sebelumnya, dia tidak pernah memeriksakan matanya dan tidak pernah memakai kacamata. Sejak dia diadopsi, dia tidak mengetahui penyakit mata di keluarganya.

Brian cukup percaya diri akan penglihatannya ketika pada Januari berobat ke klinik swasta tempat saya sesekali praktik. Saya tidak hanya membuatnya membaca surat pada grafik, tetapi melakukan beberapa tes. Dia harus mengidentifikasi lampu yang muncul di kubah besar setiap kali benda tersebut menyala.

Kemudian dokter membuat diagnosis: Brian diduga menderita glaukoma, istilah yang belum pernah ia dengar sebelumnya dan yang tampaknya cukup menakutkan ketika diucapkan dengan keras.

Ini adalah penyakit yang dianggap turun-temurun, walau dapat terpapar melalui sumber lain–misalnya setelah operasi atau trauma lain atau karena efek samping pengobatan. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat membutakan Anda

Ini adalah gambar retina kiri seorang perempuan berusia 76 tahun yang mengidap glaukoma. Shutterstock

Bidang penglihatan yang terbatas

Walau gejala glaukoma dapat tidak terdeteksi sampai penyakit ini berada di tahap lanjut , tanda-tanda klinis dapat dideteksi ketika kesehatan mata diperiksa oleh profesional yang kompeten. Tanda-tanda klinis dapat muncul di usia berapa pun, tetapi lebih sering muncul setelah usia 50 tahun.

Pada dasarnya, glaukoma dianggap sebagai gangguan saraf optik yang progresif, ditandai dengan degenerasi sel ganglion retina dan perubahan fisiologis pada saraf optik

Selain faktor usia dan etnis, “tekanan intraocular yang semakin tinggi merupakan faktor risiko yang signifikan. Kelebihan cairan mata dapat menyebabkan tekanan ini. Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata atau dokter mata akan menentukan mekanisme mana yang berperan dan membantu menentukan pengobatan yang paling tepat.

Tes klinis digunakan untuk memeriksa bidang penglihatan, tempat glaukoma dapat muncul dengan jelas. Ketika penyakit ini berkembang, lebih banyak serabut saraf yang terpengaruh, menghasilkan bidang penglihatan yang lebih terbatas untuk pasien.

Kecelakaan yang terjadi ketika bekerja bisa menjadi tanda-tanda penting kehilangan penglihatan. (Shutterstock)

Tes pencitraan mata semakin dilengkapi dengan analisis serat saraf dan lapisan saraf optik menggunakan teknologi optical coherence tomography (OCT). Dengan membandingkan pemindaian pasien dengan basis data yang sesuai dengan usia dan etnis, alat ini mungkin mampu mengidentifikasi serangan glaukoma lebih awal sebelum pasien kehilangan penglihatan mereka. Beberapa tes dengan OCT juga memungkinkan kita untuk mendapatkan gambar struktur mata yang bisa membatasi sirkulasi cairan yang berlebih.

Selanjutnya, struktur mata diperiksa menggunakan mikroskop yang menggunakan dengan lensa khusus atau kacamata pembesar.

Dalam kasus Brian, saraf optiknya terlihat tidak normal. Tekanannya cukup tinggi, sekitar 28 mm Hg di setiap mata. (Tekanan normal biasanya di bawah 20 mm Hg.) Semua struktur mata lainnya dianggap normal.

Pilihan pengobatan

Setelah diagnosis terkonfirmasi, penting bagi Brian untuk memahami glaukoma tidak dapat diobati, tetapi kita dapat memperlambat perkembangannya. Ketika Anda menderita glaukoma, Anda menderitanya selama-lamanya dan rajin berobat sangat penting untuk mempertahankan penglihatan Anda.

Pengobatan biasanya dimulai dengan obat-obatan yang dapat mengurangi produksi cairan atau mendorong cairan tersebut keluar dari bagian dalam mata, atau keduanya. Beberapa obat lain juga dapat melindungi saraf optik dari kerusakan yang disebabkan oleh glaukoma

Begitu dimulai, pengobatan tidak boleh dihentikan begitu saja tanpa konsultasi dengan ahli. Setiap efek samping, seperti kemerahan, mata kering atau kesemutan juga harus dilaporkan sehingga dapat diobati dan resep dapat dimodifikasi.

Dokter mata juga dapat mengusulkan pembedahan atau perawatan dengan laser kapan saja untuk mengontrol kondisi pasien.

Brian meninggalkan klinik dengan perasaan terkejut atas kondisinya, tetapi dia merasa yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia menyadari sekarang bahwa yang dia pikir kecelakaan biasa ternyata merupakan tanda-tanda hilangnya penglihatan. Dia harus belajar beradaptasi dengan kenyataan baru ini dan berharap penglihatan yang tersisa akan memungkinkannya untuk terus mengendarai mobilnya.

Dia berjanji untuk berbicara tentang glaukoma kepada semua orang di sekitarnya, terutama anak-anaknya, sehingga mereka dapat diperiksa dan dideteksi tepat pada waktunya. Setiap orang di atas usia 50 harus diperiksa oleh dokter mata atau dokter spesialis mata. Pemeriksaan ini juga sebaiknya dilakukan oleh orang-orang dari berbagai usia yang orang tua atau kerabatnya menderita glaukoma.

Hal tersebut adalah cara yang paling manjur untuk mencegah datangnya penyebab kebutaan yang sering muncul secara tiba-tiba ini.

Jamiah Solehati menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in French