Mengapa anak-anak berbohong, dan apakah ini normal?

“Tidak, saya tidak memakan kuenya.” www.shutterstock.com

Mengapa anak-anak berbohong, dan apakah ini normal?

Anak-anak biasanya mulai berbohong ketika memasuki usia prasekolah, atau di antara usia dua atau empat tahun. Upaya tipu muslihat yang disengaja ini membuat orang tua khawatir bila anak mereka kelak menjadi pelaku penyimpangan sosial dalam skala yang kecil.

Namun dari perspektif psikologi perkembangan, kebohongan yang dilakukan oleh anak-anak bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan. Pada kenyataannya, berbohong merupakan satu hal yang menandai adanya perkembangan pikiran anak, atau kesadaran diri anak bahwa orang lain memiliki keinginan, perasaan, dan keyakinan yang berbeda dengan dirinya.

Ketika seorang anak melakukan klaim palsu semisal “Ayah bilang aku boleh makan es krim”, mereka menggunakan kesadaran pikiran orang lain untuk menanamkan pengetahuan yang palsu.

Ketika berbohong itu sendiri mungkin tidak dibenarkan secara sosial, kemampuan untuk mengetahui apa yang orang lain pikirkan dan rasakan adalah kecakapan sosial yang penting. Ini mungkin berhubungan dengan empati, sifat kerja sama, dan kepedulian terhadap orang lain ketika mereka merasa kecewa.

Bagaimana berbohong berubah seiring bertambahnya usia

Ketika anak kecil berbohong untuk pertama kalinya, mereka lebih melakukannya sebagai humor ketimbang kebohongan efektif. Misalnya, anak-anak yang mengklaim bahwa mereka tidak memakan kue apa pun sedangkan mulutnya masih mengunyah kue, atau menyalahkan anjingnya karena telah mencoret tembok rumah.

Anak kecil mungkin mengetahui mereka dapat mengelabui orang lain, tapi mereka belum bisa melakukannya dengan mahir.

Sebelum usia delapan tahun, anak-anak sering kali mengaku bahwa mereka telah berbohong. Sebuah studi menunjukkan, anak-anak usia tiga sampai tujuh tahun diminta untuk tidak melihat mainan yang dirahasiakan (Barney) yang diletakkan di samping mereka. Tetapi hampir semua anak melakukan itu, dan hampir semua berbohong (yang meningkat seiring bertambahnya usia).

Tapi secara keseluruhan, anak-anak dalam kelompok tersebut juga mengalami kesulitan untuk mempertahankan kebohongan mereka. Mereka yang berusia tiga sampai lima tahun dapat menjaga raut muka datar mereka saat berbohong, meskipun pada akhirnya cenderung mengakui kebohongan mereka.

Sedangkan mereka yang berusia enam dan tujuh tahun akan lebih ahli dalam menyembunyikan kebohongan mereka, misalnya dengan pura-pura tidak tahu atau pun dengan sengaja tidak menyebut nama Barney.

Seiring pertambahan usia dan berkembangnya kemampuan memahami cara pikir orang lain, mereka semakin lihai melakukan kebohongan yang mudah dipercaya oleh orang lain. Mereka juga semakin pandai menjaga kebohongannya secara berkelanjutan.

Perkembangan moral juga terjadi. Anak yang lebih muda cenderung berbohong untuk keuntungannya sendiri, sedangkan mereka yang lebih dewasa lebih mengantisipasi perasaan buruk terhadap dirinya apabila berbohong.


Read more: Kapan sebaiknya anak Indonesia belajar bahasa Inggris?


Anak yang lebih dewasa dan remaja juga dapat lebih menggambarkan hubungan di antara bentuk-bentuk kebohongan yang berbeda. Misalnya, kebohongan dengan tujuan kebaikan, bagi mereka, dianggap lebih tepat dibandingkan kebohongan yang bersifat membahayakan atau demi melanggar aturan.

Meskipun jarang terdapat studi yang memperkirakan frekuensi berbohong yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja, para remaja kerap kali ditemukan berbohong kepada orang tua dan gurunya mengenai sesuatu yang dianggap sebagai urusan pribadi mereka.

Sebuah studi menemukan bahwa 82% remaja di Amerika Serikat mengakui bahwa dalam setahun terakhir, mereka telah berbohong kepada orang tuan soal uang, konsumsi alkohol, obat terlarang, pertemanan, kencan, pesta, atau melakukan hubungan seks.

Kebanyakan dari mereka berbohong soal pertemanan (67%) maupun konsumsi alkohol dan obat terlarang (65%). Yang mengejutkan adalah hanya sedikit dari mereka yang berbohong soal melakukan hubungan seks (32%).

Ketika membaca skenario singkat para remaja yang berbohong, mereka cenderung menganggap kebohongan tersebut dapat diterima apabila itu untuk membantu seseorang atau menyimpan rahasia pribadi, tetapi tidak jika itu untuk menyakiti atau melukai seseorang.

Apakah kebohongan dapat menyebabkan permasalahan?

Terlepas dari prevalensinya, kebohongan yang dilakukan oleh anak-anak jarang sekali menyebabkan permasalahan. Penting juga untuk mengingat banyak dari orang dewasa yang berbohong—terkadang untuk kebaikan, semisalnya berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, dan terkadang ketika sakit. Meskipun perkiraanya bervariasi, sebuah studi menunjukkan sekitar 40% dari orang dewasa di AS mengakui bahwa mereka telah melakukan kebohongan dalam 24 jam terakhir.

Dalam beberapa kasus, kebohongan yang parah dapat membawa masalah, jika mereka melakukan hal tersebut bersamaan dengan beberapa perilaku lain yang tidak semestinya. Misalnya, ketidakjujuran melalui kebohongan yang muncul sebagai bagian dalam gangguan psikologis bagi orang yang memiliki kecenderungan memberontak.

Anak-anak dengan gangguan tingkah laku atau ODD dapat menyebabkan kekacauan yang cukup besar di rumah atau sekolah melalui upaya perlawanan berulang dan dapat membahayakan orang lain dan benda-benda sekitar. Tapi untuk mendiagnosisnya, perbuatan bohong tersebut harus diikuti dengan sekelompok gejala lain, misalnya menolak untuk patuh terhadap figur otoritas, terus melanggar aturan, dan tidak mampu bertanggung jawab atas perbuatannya.


Read more: Truth is, everyone lies all the time


Kasus lainnya dalam masalah pengasuhan orang tua adalah ketika berbohong dapat digunakan anak untuk menutupi masalah kesehatan mental lainnya karena takut atau malu. Sebagai contoh, seorang anak atau remaja yang menderita kecemasan berat mungkin melakukan kebohongan besar untuk menghindari situasi yang membuat mereka takut (misalnya sekolah, pesta, kuman). Mereka juga berbohong untuk menghindar dari stigma gangguan kesehatan mental.

Dalam hal ini, konsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental (seperti psikolog atau psikiater) Anda akan membantu memperjelas apakah kebohongan yang mereka lakukan merupakan indikasi masalah kesehatan mental.

Orang tua dan guru membuat perubahan

Ketika berbohong merupakan bagian dari perkembangan anak yang normal, orang tua dan guru dapat membantu anak-anak dalam mengungkap kebenaran dengan tiga cara.

Pertama, hindari memberi hukuman yang berat atau berlebihan. Dalam sebuah studi yang membandingkan sekolah di Afrika Barat yang memberlakukan hukuman berat (seperti memukulnya dengan tongkat, menampar, dan mencubit) dengan sekolah yang memberlakukan teguran (seperti disuruh keluar atau diomelin), menunjukkan bahwa siswa di sekolah yang memberlakukan hukuman berat lebih cenderung memiliki murid yang menjadi pembohong yang efektif.

Anak-anak dari keluarga yang memiliki aturan ketat dan tidak mau membuka dialog juga menunjukkan frekuensi berberbohong yang lebih sering.

Dengan mengetahui apakah anak Anda berusaha membohongi Anda dengan sengaja, Anda akan bisa merancang respons yang lebih efektif. from www.shutterstock.com

Kedua, ajak anak-anak berdiskusi tentang skenario emosional dan moral. Sesungguhnya “pelatihan emosi ini” dapat membantu anak-anak memahami kapan berbohong dapat dikatakan sangat membahayakan, bagaimana hal tersebut dapat berdampak pada orang lain, dan bagaimana perasaan mereka ketika mereka berbohong. Anak-anak semakin mengantisipasi kebanggaan ketika menceritakan kebenaran, dan orang tua dapat menekankan aspek positif ketika mereka berkata jujur.

Ketiga, pastikan kebohongan itu benar-benar kebohongan. Anak-anak yang masih sangat muda cenderung untuk memadukan kehidupan nyata dan imajinasi, sementara anak-anak yang lebih dewasa dan orang dewasa seringkali memiliki argumen yang berbeda satu sama lain. Jika anak-anak mengakui adanya kekerasan fisik dan seksual, pernyataannya ini harus selalu diselidiki. Dengan membedakan apakah ada upaya penipuan yang disengaja, orang tua dan guru dapat menargetkan respons mereka secara efektif.


Read more: Kualitas buruk pelajar Indonesia akibat proses belajar tidak tuntas. Apa yang bisa dilakukan?


Kebohongan yang dilakukan anak adalah perkembangan yang normal

Berbohong adalah suatu hal yang normal dan sebuah tanda penting bahwa kecakapan kognitif yang lain juga berkembang.

Jika kebohongan dilakukan terus menerus dan merusak kemampuan anak untuk menjalani kehidupan sehari-hari ada baiknya berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental atau dokter Anda.

Tetapi dalam situasi lain, ingatlah bahwa berbohong hanyalah satu cara anak belajar untuk mengendalikan dunia sosial. Keterbukaan dan diskusi yang hangat untuk menceritakan kebenaran pada akhirnya akan membantu mengurangi kebohongan anak-anak saat mereka berkembang.

This article was originally published in English

Become a friend of The Conversation with a tax-deductible contribution today.