Menu Close

Menjawab fatwa haram: peneliti ceritakan proses pengembangan vaksin AstraZeneca

Menjawab fatwa haram: peneliti ceritakan proses pengembangan vaksin AstraZeneca.

Vaksin COVID-19, apa pun pun merek dan produsennya, kini menjadi barang langka karena produksinya terbatas dan semua negara memperebutkan “alat” untuk mengendalikan pandemi itu. Idealnya, semua penduduk bumi memiliki hak yang sama dan setara untuk mengakses vaksin itu agar kekebalan tubuhnya meningkat.

Namun, struktur ekonomi yang timpang antara negara maju dan berkembang, membuat barang penting sulit diakses oleh penduduk negara-negara berkembang dan miskin. Pada saat bersamaan, kemampuan produksi vaksin juga terbatas baik pada level bahan baku, laboratorium, dan sumber daya manusia.

Kabar baiknya adalah produsen vaksin AstraZeneca dari Inggris berencana meningkatkan kapasitas produksi sepuluh kali lipat hingga akhir tahun ini. Jika rencana ini tercapai, maka negara-negara berkembang dan miskin, baik beli sendiri maupun dari inisiatif global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan The Vaccine Alliance, akan memiliki lebih banyak dosis vaksin.

Lalu bagaimana proses produksi vaksin AstraZeneca yang menggunakan teknologi terbaru dan kini juga dipakai di Indonesia?

Kali ini kita dengarkan dari cerita Carina Citra Dewi Joe, peneliti Indonesia yang memimpin riset pengembangan vaksin AstraZeneca untuk skala besar di Jenner Institute Universitas Oxford. Selain menjelaskan proses produksi vaksin, dia juga membantah tuduhan Majelis Ulama Indonesia bahwa vaksin AstraZeneca memakai tripsin dari babi dalam proses produksinya.

Simak episode lengkapnya di podcast SuarAkademia, di mana kami akan hadir rutin memandu sahabat TCID untuk memahami berbagai isu yang sedang hangat, bersama akademisi dan para editor kami.

SuarAkademia - ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 128,500 academics and researchers from 4,058 institutions.

Register now