Para pemimpin dunia perlu belajar cara bersekutu dari sang musuh penyebab COVID-19

PIRO4D from Pixabay, CC BY
Penggambaran virus corona. from Pixabay, CC BY

Sejak awal tahun ini, SARS-CoV-2, virus berbahaya yang menyebabkan pandemi COVID-19, memulai sebuah perang sengit dengan umat manusia, melibatkan negara-negara di seluruh dunia. Sebagai lawan, virus itu memiliki pasukan yang berjumlah yang tak terhingga, tidak terlihat, dan ganas.

SARS-CoV-2 adalah jenis terbaru virus corona –virus yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan termasuk influenza, SARS, dan MERS. Virus corona digambarkan berbentuk bulat dengan bagian seperti jamur berwarna merah seperti mahkota. Karakter inilah yang memberikan nama Corona, bahasa Latin yang artinya mahkota.

Virus ini bisa masuk dalam saluran pernapasan manusia. Di sana, ia bertemu dan melebur dengan ACE2 - protein baik yang mengatur tekanan darah - masuk ke dalam sel tubuh kemudian memperbanyak diri dan mengambil alih kendali.

Strategi pasukan corona menggabungkan diri dengan ACE2 dapat menjadi pembelajaran bagi negara-negara di dunia untuk menghadapi pandemi ini.

Dengan bersekutu dan menggabungkan sumber daya global, kerja sama antar negara lebih efektif dalam mencegah penyebaran virus.


Read more: Mengapa membaiknya ekonomi Cina pada masa pandemi COVID-19 bergantung pada negara lain


Menyelamatkan muka sendiri

Sayangnya, yang terjadi saat ini adalah egoisme politik yang mendongkrak angka kematian. Seiring meluasnya wabah COVID-19, berbagai pemimpin negara memperlihatkan sikap mementingkan diri sendiri.

Pemerintah Cina, misalnya, sempat melakukan beberapa tindakan untuk meningkatkan citra positif di kalangan internasional. Selain menutup-nutupi kasus yang mulai merebak di akhir tahun 2019, Cina menolak tawaran AS di awal Januari 2020 untuk membantu dalam meneliti virus Corona. Cina juga didapati menekan angka kasus positif dan angka kematian dengan memanipulasi data.

Lalu, meski pada pertengahan Februari 2020, misi gabungan WHO dan Cina telah mengeluarkan rekomendasi bagi pemimpin-pemimpin negara untuk melakukan pencegahan penyebaran wabah, banyak negara menelantarkan arahan ini.

Salah satu arahan pertama yang diberikan untuk negara-negara yang belum mendapati kasus positif adalah untuk mempersiapkan mekanisme tanggap darurat termasuk kesiapan memberlakukan strategi pembatasan sosial.

Namun, kebanyakan pemimpin negara mengabaikan peringatan ini. Indonesia, misalnya, sebelum mengumumkan kasus Corona pertama pada 2 Maret, tidak melakukan antisipasi dan justru mempertimbangkan pemberian insentif untuk wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia.

Di Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump sempat menganggap SARS-Cov-2 sebagai rekayasa partai oposisi dan berulang kali meremehkan ancaman wabah bahkan mempolitisi kebijakan untuk kepentingan pemilu.

Di tengah krisis, Cina dan AS sebagai negara terkuat dunia terus bersitegang.

Pemerintah Cina sempat menuding AS menyulut kepanikan setelah AS melarang masuk warga negara asing yang sempat mengunjungi Cina.

Trump juga berulang kali menggunakan istilah “virus Cina”, terutama setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina menuding AS-lah yang mendatangkan virus tersebut ke Cina.

Terakhir, beberapa media internasional sempat memberitakan mengenai kegusaran pemerintah Jerman terkait upaya Trump membeli perusahaan bioteknologi Jerman, CureVac, karena memiliki perkembangan penelitian vaksin yang menjanjikan.

Di tengah krisis pandemi yang mengancam dunia, kepentingan politik nasional masih menjadi prioritas.


Read more: Kesamaan Wali Kota Surabaya dan Chicago dalam memimpin di tengah pandemi


Bersekutu tambah mutu

Pertumbuhan jumlah pasien karena penularan wabah ini terjadi secara eksponensial. Per 8 April 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1,2 juta kasus dan 72.000 kematian di penjuru Bumi.

Berdasarkan terus meningkatnya angka kasus, jumlah kematian yang disebabkan oleh lemahnya sistem kesehatan di berbagai negara, dan gangguan besar terhadap pola hidup manusia; corona unggul dalam perang yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan militer terbaik manapun.

Dalam masa krisis ini, bukan saatnya saling menuding dan mencari tahu siapa yang bisa disalahkan. Telaah analitis mungkin berguna untuk mencegah pandemik di masa depan namun di tengah kecamuk perang melawan pandemi, perhatian harus diarahkan pada cara menjatuhkan musuh ketimbang membuat lawan baru.

Dalam ilmu hubungan internasional, konsep balance of power (perimbangan kekuatan) mendorong negara-negara untuk menggabungkan kekuatan untuk memerangi musuh bersama.

Konsep ini berguna untuk mengumpulkan tenaga dan kemampuan demi kepentingan bersama.

Sumber daya kita terbatas dan jika setiap pemimpin negara rela mengesampingkan kepentingan politiknya untuk menghadapi krisis kesehatan terbesar abad ini, ada harapan untuk kita keluar dari ancaman maut ini bersama-sama.


Read more: Sains terbuka mendorong riset global untuk hadapi coronavirus: mengapa peran Indonesia minim?


Di saat kita harus menjaga jarak fisik dari satu sama lain, slogan “bersatu kita teguh” justru bergaung keras ketika kita harus meningkatkan upaya kita bersama sebagai bagian dari kemanusiaan dan mengalahkan corona.

Pada 20 Februari 2020, Cina dan negara-negara ASEAN sepakat bekerja sama untuk menghadapi wabah dalam sebuah pertemuan khusus terkait COVID-19. Pertemuan itu adalah salah satu upaya antar-negara pertama di tengah pandemi ini.

Sebulan kemudian, pertemuan darurat negara-negara G20 terkait COVID-19 pada 26 Maret 2020 memberikan harapan kearah pendekatan multilateral dan koordinasi internasional.

Salah satu hasil pertemuan G-20 adalah janji negara-negara anggota untuk membantu biaya produksi dan distribusi Alat Pelindung Diri (APD) petugas medis di seluruh dunia.

Minggu lalu, sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyetujui sebuah resolusi yang mendesak “kerja sama internasional” dan “multilateralisme” dalam melawan wabah.

Ini langkah-langkah maju ke arah yang tepat –seandainya saja dilakukan lebih cepat– untuk menggalang kekuatan dan melumatkan si virus laknat.


Ikuti perkembangan terbaru seputar isu politik dan masyarakat selama sepekan terakhir. Daftarkan email Anda di sini

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,600 academics and researchers from 3,363 institutions.

Register now