Menu Close
A video screen showing a man looking at the camera while gesturing with both hands with a corporate logo beside him
Perusahaan Mark Zuckerberg mengatakan semua baik-baik saja, tetapi data yang disajikan hanya tentang bagaimana rata-rata pengguna media sosial. AP Photo/Eric Risberg

Ribuan orang rentan yang dirugikan oleh Facebook dan Instagram tidak tampak dalam data Meta

Paruh kedua 2021 telah diwarnai dengan serangkaian investigasi media yang menyatakan bahwa platform media sosial Facebook, WhatsApp, dan Instagram milik Meta menimbulkan ancaman bagi kesehatan mental dan kesejahteraan pengguna, meradikalisasi, mempolarisasi, dan menyebarkan informasi yang salah.

Apakah teknologi-teknologi ini – yang digunakan oleh miliaran orang – membunuh orang dan mengikis demokrasi? Atau ini hanya kepanikan moral belaka?

Menurut tim Hubungan Masyarakat Meta dan beberapa pendapat lain dari akademisi serta jurnalis, ada bukti bahwa media sosial tidak membahayakan.

Namun, gambaran keseluruhannya tidak jelas. Mereka mengutip studi yang tampaknya bertentangan; dengan akses yang tidak penuh ke data serta kesulitan membangun kesimpulan untuk mendukung pendapat mereka.

Beberapa peneliti ini telah mengadakan survei pada pengguna media sosial dan menemukan bahwa penggunaan media sosial menunjukkan serangkaian dampak negatif minimal pada individu. Hasil ini tampaknya tidak konsisten dengan laporan jurnalistik yang telah diadakan bertahun-tahun, bocoran data internal Meta, intuisi akal sehat, dan pengalaman hidup orang-orang.

Para remaja bergelut dengan masalah keyakinan dan harga diri, dan tampaknya tidak terlalu mengada-ada untuk menyatakan bahwa menjelajahi Instagram bisa memperburuk masalah mereka. Demikian pula, sulit membayangkan begitu banyak orang menolak untuk divaksinasi, menjadi hiperpartisan, atau percaya begitu saja pada teori konspirasi di era sebelum media sosial.

Lalu, siapa yang benar? Sebagai seorang peneliti yang mempelajari perilaku kolektif manusia, saya melihat tidak adanya konflik antara dua temuan ini. Media sosial tetap dapat memiliki efek bencana, bahkan jika secara rata-rata pengguna hanya mengalami dampak minimal.

Menemukan titik buta

Untuk memahami ini, bayangkan sebuah dunia tempat Instagram memiliki efek yang-kaya-semakin-kaya dan yang-miskin-semakin-miskin pada kesejahteraan pengguna.

Sebagian besar pengguna, mereka yang hidupnya tidak susah, akan mendapati Instagram membantu mereka memberikan penegasan sosial dan menjadikan mereka tetap terhubung dengan teman.

Sedangkan bagi sebuah kelompok minoritas, mereka yang menghadapi depresi dan rasa kesepian, akan melihat unggahan-unggahan orang-orang kaya dan akhirnya itu semua akan memperburuk kesehatan mental mereka.

Bila kita mencoba menemukan karakter rata-rata dari seluruh pengguna ini dalam satu studi kasus, kita mungkin tidak akan menemukan perubahan signifikan dalam waktu ke waktu.

Ini akan menjelaskan mengapa penemuan-penemuan oleh survei dan panel dapat menyatakan bahwa secara rata-rata efek yang ada tidaklah besar. Kelompok kecil dalam sampel yang lebih besar akan sulit mempengaruhi hasil temuan rata-rata ini.

Namun, bila kita melihat lebih dekat kepada orang-orang yang paling berisiko, banyak dari mereka mungkin telah berubah dari kondisi diri yang terkadang sedih menjadi depresi ringan, atau dari depresi ringan menjadi depresi yang sangat berbahaya.

Inilah yang dilaporkan oleh pelapor Facebook Frances Haugen dalam kesaksiannya di Kongres Amerika Serikat (As): Instagram menciptakan lingkaran setan umpan balik spiral ke bawah di antara remaja yang paling rentan.

A teen watches an Instagram post of a young woman applying makeup
Studi populasi dengan skala besar dapat melewatkan efek yang dialami oleh sekelompok orang; misalnya, gadis remaja yang rentan di Instagram. AP Photo/Haven Daley

Ketidakmampuan jenis penelitian ini untuk menangkap jumlah kecil orang yang berisiko dampak signifikan – ‘ekor’ dalam distribusi – diperburuk oleh kebutuhan untuk mengukur berbagai pengalaman manusia dalam sebuah rentang.

Ketika orang menilai kesejahteraan mereka dalam rentang satu sampai lima – satu terendah dan lima tertinggi, “satu” dapat diartikan dengan berbagai macam deskripsi dari putus dengan pasangan yang tidak mereka sukai, hingga keadaan seseorang sangat membutuhkan intervensi krisis untuk bertahan hidup. Nuansa ini terkubur dalam konteks rata-rata populasi.

Sejarah menutupi bahaya dengan rata-rata

Kecenderungan untuk mengesampingkan bahaya bukanlah lagi menjadi hal yang baru untuk kasus kesehatan mental, atau bahkan konsekuensi sosial media.

Membiarkan sebagian besar pengalaman mengaburkan nasib kelompok yang lebih kecil adalah suatu kesalahan (dan umum terjadi), dan saya berpendapat bahwa hal ini kerap terjadi pada orang-orang yang paling rentan dalam masyarakat.

Hal itu juga bisa menjadi taktik yang merusak.

Perusahaan tembakau dan ilmuwan pernah berpendapat bahwa kematian dini di antara beberapa perokok bukanlah masalah serius karena kebanyakan orang yang merokok tidak meninggal karena kanker paru-paru.

Perusahaan farmasi telah mempertahankan taktik pemasaran agresif mereka dengan mengklaim bahwa sebagian besar orang yang diobati dengan opioid mendapatkan bantuan dari rasa sakit tanpa meninggal karena overdosis.

Dalam kasus-kasus ini, kerentanan ditutupi oleh temuan rata-rata dan mengarahkan opini tentang bahaya menjadi manfaat, yang sering diukur dengan cara yang mengaburkan kerusakan yang sangat nyata pada sekelompok minoritas – tetapi masih substansial.

Bahaya yang kecil bagi banyak orang tidaklah inkonsisten dengan bahaya besar bagi sebagian kecil orang.

Karena sebagian besar orang dunia sekarang menggunakan beberapa bentuk media sosial, saya meyakini pentingnya mendengarkan suara para orang tua yang khawatir dan remaja dalam pergumulan ketika mereka menuding Instagram sebagai sumber masalah.

Demikian pula, penting untuk mengakui bahwa pandemi COVID-19 telah menjadi berkepanjangan karena informasi yang salah di media sosial telah membuat beberapa orang takut untuk menerima vaksin yang aman dan efektif.

Pengalaman-pengalaman hidup ini adalah bukti penting tentang bahaya yang disebabkan oleh media sosial.

Apakah Meta memiliki jawabannya?

Menetapkan sebab-akibat dari data pengamatan memang sebuah tantangan; begitu menantang sehingga kemajuan di bidang ini diganjar hadiah Nobel Ekonomi 2021.

Ilmuwan sosial juga tidak dalam posisi yang baik untuk menjalankan uji coba terkontrol secara acak untuk menetapkan sebab-akibat secara pasti, terutama untuk pilihan desain platform media sosial seperti mengubah cara konten disaring dan ditampilkan.

Tapi Meta memiliki posisi itu. Perusahaan ini memiliki ribuan terabyte data tentang perilaku manusia, memperkerjakan ilmuwan sosial, dan mampu untuk menjalankan uji coba kontrol acak secara paralel dengan jutaan pengguna.

Mereka sudah menjalankan eksperimen semacam itu terus-menerus untuk memahami cara terbaik menarik perhatian pengguna, spesifik hingga ke warna, bentuk, dan ukuran tombol.

Meta dapat menghasilkan bukti yang tak terbantahkan dan transparan bahwa produk mereka tidak berbahaya, bahkan bagi mereka yang rentan - jika ada.

Apakah perusahaan ini memilih untuk tidak menjalankan eksperimen seperti itu atau telah menjalankannya dan memutuskan untuk tidak membuka hasilnya?

Apa pun itu, kita sudah bisa menilai dari keputusan Meta untuk membuka dan lebih menekankan data tentang efek rata-rata.


Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,300 academics and researchers from 4,519 institutions.

Register now