Menu Close

Riset: bayi dapat terpapar jutaan partikel mikroplastik lewat botol susu

2 botol susu bayi dengan ibu menyusui di latar belakang.
Evso/Shutterstock

Mikroplastik kini ditemukan hampir di mana-mana di Bumi, namun para ilmuwan belum banyak memahami tentang bagaimana produk sehari-hari bisa melepaskan partikel-partikel plastik kecil ini.

Jika Anda minum dari botol plastik atau makan dari wadah yang tahan microwave, kemungkinan besar Anda sedang menggunakan polipropilena (polypropylene).

Polipropilena dianggap aman dan cocok untuk berbagai macam kegunaan - sehingga plastik ini banyak digunakan dalam penyajian makanan.

Bahan ini juga ditemukan dalam botol susu bayi.

Secara umum, kita berasumsi bahwa botol yang terbuat dari plastik ini sangat kaku dan stabil saat disterilkan dengan air panas dan dikocok-kocok.

Namun, dalam penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa pemberian susu formula dengan botol polipropilena membuat bayi di seluruh dunia terpapar 1 juta partikel mikroplastik setiap hari.

Ini lebih besar dari estimasi sebelumnya.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang dewasa dan anak-anak di AS terpapar antara 74.000 hingga 211.000 partikel sepanjang tahun, melalui makanan, minuman, dan udara.


Read more: You're eating microplastics in ways you don't even realise


Mikroplastik dalam pemberian susu formula

Seperti sebagian besar proyek penelitian, investigasi kami bermula dari observasi dan diskusi.

Suatu hari, seorang rekan kerja sedang menyiapkan mie instan dalam wadah plastik.

Wadah itu terlihat kaku pada awalnya, lalu berubah menjadi lebih lunak dan lembut setelah dituangkan air panas.

Ini membuat kami penasaran dan bertanya-tanya akan adanya mikroplastik dilepaskan proses tersebut.

Kami melakukan uji coba singkat di laboratorium dan menemukan bahwa wadah tersebut melepaskan lebih dari 1 juta mikroplastik per liter air panas.

Kami pun mulai menguji wadah polipropilena lainnya, seperti botol plastik, dengan cairan bersuhu ruangan dan menemukan sangat sedikit partikel mikroplastik terlepas per liter, dari tidak ada sama sekali hingga ratusan.

Panas, dengan demikian, adalah sumber masalah.

Kami ingin merancang eksperimen untuk melihat bagaimana 1 produk polipropilena bereaksi terhadap pemanasan biasa. Untuk ini, kami menggunakan botol susu bayi.

Dari survey di 48 wilayah dan mencakup 78% dari populasi dunia, kami menemukan 83% pasar global menggunakan botol susu bayi berbahan polipropilena.

Kami menguji botol-botol tersebut dengan memilih 10 botol susu bayi berbahan polipropilena dan mengikuti panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2007 tentang persiapan botol susu bayi di rumah.

Kami menguji seberapa banyak mikroplastik terlepas saat mengikuti panduan tersebut, termasuk membersihkan, mensterilkan dan mencampurkan cairan di dalam tiap 10 botol.

Kami menemukan botol-botol tersebut melepaskan hingga 16 juta partikel mikroplastik per liter dengan air bersuhu 70°C.

Sebagian besar mikroplastik ini berukuran lebih kecil dari 20 mikrometer dan berbentuk seperti serpihan dengan permukaan kasar, dan ketebalannya rata-rata sepersepuluh dari lebarnya.

Ketika suhu air meningkat dari rekomendasi suhu 70°C ke 95°C atau suhu air selepas mendidih, maka pelepasan mikroplastik meningkat dari 6 juta partikel mikroplastik per liter menjadi 55 juta.

Untuk proses sterilisasi saja, yaitu ketika botol dibuka dan ditempatkan di panci penuh dengan air bersuhu 95°C, maka pelepasan mikroplastik meningkat sebesar paling tidak sebesar 35%.

Penjepit mengangkat botol bayi dari panci air mendidih.
Sterilisasi botol susu bayi di air mendidih melepaskan lebih banyak mikroplastik dibandingkan proses lainnya. Kitawit Jitaton/Shutterstock

Kami merasa bahwa kami telah melakukan pendekatan keilmuan yang sangat komprehensif.

Kami telah mematuhi prosedur WHO, menggunakan uji coba kontrol, mengulangi tes dengan cairan berbeda dan suhu berbeda berulang kali, serta menggunakan analisis statistik untuk menentukan apakah hasil penelitian kami signifikan atau tidak.

Namun, kami juga mengirimkan metodologi kami dan sampel produk ke laboratorium independen untuk verifikasi.

Dari laboratorium independen tersebut juga menunjukkan hasil serupa, sehingga kami sangat yakin dengan penemuan kami, meski ini sangat mengejutkan.

Bagaimana mengurangi paparan

Melihat begitu umumnya penggunaan botol polipropilena dan jumlah besar mikroplastik yang terlepas dalam eksperimen, kami memutuskan untuk melanjutkan penelitian lebih lanjut.

Kami memperkirakan bagaimana paparan terhadap anak usia 12 bulan di 48 wilayah di dunia dengan membandingkan jumlah rata-rata pelepasan mikroplastik dari botol susu bayi, pangsa pasar botol plastik, berapa kali dan berapa banyak susu dikonsumsi oleh bayi setiap hari.

Dari sini, kami menyimpulkan bahwa bayi mengonsumsi rata-rata 1,6 juta partikel mikroplastik polipropilena setiap hari.

Kami tidak bermaksud ingin meresahkan.

Hingga saat ini, belum ada pemahaman menyeluruh terkait risiko bagi kesehatan manusia melalui paparan partikel-partikel ini.

Tim kami, dan tim peneliti lainnya, sedang aktif melakukan penelitian terkait dengan ini.

Sementara itu, ada beberapa cara untuk mengurangi paparan anak dari mikroplastik selama meminum susu.

Kami fokus pada pelapis yang bisa mencegah mikroplastik terlepas selama penggunaan dan penyaring yang bisa mencegah mikroplastik masuk ke pasokan air.

Kami juga sudah mengembangkan beberapa prosedur untuk sterilisasi botol dan menyiapkan susu formula bagi bayi sambil mengurangi paparan mikroplastik dari botol polipropilena.

4 cara yang tercepat dan termudah adalah:

  1. Bilas botol susu yang sudah steril dengan air dingin yang steril.

  2. Selalu sajikan susu di wadah non-plastik.

  3. Setelah susu bayi mencapai suhu ruangan, pindahkan ke dalam botol yang sudah didinginkan dan steril.

  4. Hindari memanaskan susu di wadah plastik, terutama dengan oven microwave.


Ignatius Raditya Nugraha menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 117,100 academics and researchers from 3,789 institutions.

Register now