TikTok adalah aplikasi berbagi video dan musik. Denys Prykhodov/Shutterstock

TikTok masih harus banyak belajar agar dapat diterima di pasar global

Jika Twitter adalah versi revolusioner dari blogging, nungkin TikTok adalah versi revolusioner dari YouTube. Twitter dan TikTok mendorong penggunanya untuk memposting konten yang lebih pendek dan lebih terfragmentasi daripada pendahulu mereka.

TikTok, yang dimiliki oleh raksasa teknologi Cina ByteDance, adalah versi internasional dari aplikasi berbagi video pendek China, Douyin.

Ini TikTok.

Saat ini, TikTok dianggap sebagai salah satu perusahaan rintisan (start-up) dengan nilai paling tinggi di planet ini.

TikTok bukan platform media sosial Cina pertama yang go internasional, meski sepertinya ia aplikasi pertama dari Cina yang menarik pengguna non-Cina secara global. WeChat dan platform media sosial Cina lainnya yang telah mengglobal, sebenarnya digunakan oleh utamanya warga negara Cina internasional.


Read more: Thinking of taking up WeChat? Here's what you need to know


Namun, Tiktok bukanlah cerita sukses yang utuh. Platform berbagi video ini memang telah menembus beberapa pasar non-Cina, tapi masih banyak yang harus mereka perhatikan ketika berurusan dengan peraturan dan budaya luar.

Dan ini berlaku untuk aplikasi Cina secara umum–mereka menghadapi hambatan dalam menyempurnakan strategi global mereka, terutama dalam menavigasi sensor Cina yang ketat terhadap internet.

Media sosial Cina mengglobal

Sejumlah peneliti mengaitkan keberhasilan media sosial Cina dengan penyensoran dan pengisolasian internet negara ini. Hal ini terjadi karena “Tembok Api Besar” (Great Firewall) yang dibuat oleh pemerintah Cina mencegah media sosial asing memasuki pasar Cina.

Walau demikian, banyak platform media sosial yang berbasis di Cina, seperti Weibo, WeChat, You Ku, Blued dan Douyin, berusaha berekspansi ke pasar global.

Wechat, contohnya, telah mencoba dan (gagal) menembus pasar non-Cina di luar negeri, meski sudah merekrut bintang sepak bola Lionel Messi sebagai bintang iklan mereka.

Berbeda dengan strategi global perusahaan media sosial Cina yang lain, ByteDance tidak pernah menggabungkan ranah digital Cina dan internasional mereka. Sebagai gantinya, ByteDance menciptakan aplikasi terpisah, TikTok, khusus untuk pasar luar negeri.

TikTok dan Douyin. Screenshot of the author's phone

Bahkan, ByteDance menggelontorkan dana sebanyak AUD$1,42 miliar (setara dengan Rp14 triliun) untuk membeli Musical.ly, dengan target pasar remaja di Amerika Serikat. Pada 2 Agustus 2018, ByteDance menggabungkan Musical.ly ke TikTok, sebuah dorongan luar biasa untuk kesuksesan TikTok.

# TikTok berusaha melepas identitas Cina

Douyin dan TikTok dicap sebagai produk yang sama, tapi masing-masing punya kekhasan yang berbeda, tergantung pada target pemasarannya. Langkah ini dianggap bijaksana untuk ambisi global ByteDance, mengingat budaya internet Cina tidak selalu dapat dimengerti di konteks global.

Antarmuka (interface) milik TikTok (kiri) dengan Douyin (kanan) Author provided (screenshot of app interfaces)

Misalnya, TikTok, tidak seperti Douyin, memiliki serangkaian stiker dan efek kebarat-baratan pada antarmukanya, seperti yang Anda lihat pada gambar di atas.

Namun, beberapa kekhasan Cina yang ada di Douyin tetap muncul di TikTok, seperti fitur kamera meibai (美白, secara harfiah berarti “mempercantik memutihkan”).

Foto pratinjau TikTok dari toko aplikasi Australia. Author provided, Author provided

Namun, berlomba mendapatkan kulit putih bukanlah motivasi sosial di sebagian besar negara Barat, dan kendala teknologi seperti ini sangat jelas terlihat.

Walau ByteDance sudah mengerahkan upaya untuk meminimalkan budaya Cina yang melekat, memahami budaya Barat sepenuhnya rupanya masih menjadi kendala tersendiri bagi TikTok.

Dan ini terutama berlaku untuk platform media sosial Cina lain yang tidak benar-benar berusaha untuk menggabungkan budaya global sama sekali. Misalnya, layanan pembayaran seluler WeChat, WeChat Pay, hanya memungkinkan warga negara Cina dengan rekening bank Cina untuk mendaftar sebuah akun.

Aplikasi global dengan aturan Cina

Pada April 2018, regulator internet Cina menuduh ByteDance menyebarkan konten yang melanggar norma melalui Douyin.

Contoh kasusnya meliputi pengguna di bawah umur melakukan siaran langsung atau memposting video iklan di akun Douyin-nya untuk mendapatkan uang. Terdapat laporan bahwa beberapa anak merekam gerakan atau tarian yang sugestif untuk menambah jumlah pengikut.

Pemimpin eksekutif ByteDance Zhang Yiming menanggapi dengan mengatakan perusahaan akan meningkatkan tim moderasi konten yang tadinya beranggotakan 6.000 moderator menjadi 10.000. Tapi ByteDance menolak untuk mengungkapkan berapa banyak dari 10.000 moderator ini yang akan bekerja untuk TikTok, dan apakah standar konten untuk pengguna Amerika sama dengan standar untuk pengguna Cina.


Read more: China bans streaming video as it struggles to keep up with live content


Pemimpin eksekutif Common Sense Media James P Steyer mengatakan anak-anak yang menggunakan TikTok “terlalu mud” untuk menggunakan aplikasi tersebut.

Ia mengatakan bahwa konten Tiktok mungkin tidak masalah dikonsumsi anak berusia 15 tahun.

Masalahnya adalah anak Anda yang berumur enam atau tujuh tahun.

Bulan lalu, TikTok dihukum sekitar Rp 80 miliar oleh Komisi Perdagangan Federal AS karena melanggar Undang-Undang Perlindungan Privasi Daring Anak-anak.

Perhatian rendah ByteDance terhadap pengguna di bawah umur pada aplikasi Douyin dan TikTok menunjukkan kurangnya mekanisme tersruktur untuk melindungi anak-anak di Cina. Selain itu, mungkin ada banyak hal-hal lain yang tidak kita ketahui karena regulasi media sosial yang tidak transparan di negara tersebut.

Walau TikTok sanggup untuk membayar denda terbesar dalam kasus privasi anak di AS, mereka masih harus belajar dan beradaptasi terhadap pasar global.

Naskah ini diterjemahan dari Bahasa Inggris oleh Jamiah Solehati.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,600 academics and researchers from 3,363 institutions.

Register now