Menu Close
Ilustrasi sampah yang menumpuk di pesisir laut. (Dedhez Anggara/Antara)

TPA Piyungan ditutup: Yogyakarta semakin darurat sampah laut

Yogyakarta, selain karena wisata dan budayanya, juga kondang dengan masalah penumpukan sampah yang tak kunjung tuntas.

Kabar terakhir, Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyampaikan Tempat Pemrosesan sampah Akhir (TPA) Piyungan tutup mulai 23 Juli hingga 5 September 2023 akibat kelebihan kapasitas. TPA Piyungan selama ini menampung sampah dari sejumlah daerah di Yogyakarta.

Penutupan TPA Piyungan justru memperburuk persoalan. Sampah yang menumpuk dan tidak dikelola dari sumbernya (manusia) bisa mencemari sungai hingga kawasan pesisir dan laut.

Riset saya bersama kolega menguraikan penyebab tebaran sampah di sejumlah pesisir Bantul, Yogyakarta. Kebanyakan sampah ini berasal dari aktivitas manusia di daratan. Sampah berhasil sampai ke pantai karena diangkut oleh aliran sungai (Gambar 1).

Gambar 1. Contoh sampah di komplek Pantai Parangtritis (Courtesy: Fikri Hibatullah, 2022)

Hasil pemantauan kami menunjukkan adanya peningkatan kepadatan massa sampah plastik sangat signifikan di daerah Bantul. Angkanya mencapai 364% hanya dalam waktu tiga tahun (2019 - 2022).

Lonjakan sampah yang kami temukan di Bantul bisa terus berlanjut dan terjadi di daerah lainnya. Pasalnya, pengembangan tujuan-tujuan wisata di Yogyakarta tidak dibarengi kebijakan khusus untuk mengurangi dan menangani sampah laut.

Perjalanan sampah di Yogyakarta

Di Yogyakarta, mayoritas wilayahnya (63%) merupakan bagian dari DAS Opak dan DAS Progo.

Dalam sebuah sistem Daerah Aliran Sungai (DAS), aktivitas di wilayah hulu akan memengaruhi wilayah hilir.

Sungai Progo (bagian dari DAS Progo), misalnya, merupakan satu dari 20 sungai di dunia yang berkontribusi signifikan terhadap pencemaran sampah laut, khususnya sampah jenis plastik. Sungai yang bermuara di Samudra Hindia ini melepaskan sekitar 9.800-22.900 ton sampah plastik per tahun.

Gambar 2. Gambaran sampah di muara Sungai Progo (Courtesy: Bachtiar Mutaqin, 2023)

Sungai Progo melewati sebelas kabupaten kota. Di antaranya adalah Temanggung, Wonosobo, Boyolali, Purworejo, Semarang, Magelang, dan Kota Magelang di Jawa Tengah. Ada juga Bantul, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kulonprogo di Yogyakarta.

Ada juga sungai Opak (bagian dari DAS Opak) yang melintasi Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, serta Kota Yogyakarta. Sungai Opak berhulu di Gunung Merapi serta Pegunungan Baturagung kemudian berhilir di selatan Bantul.

Alih fungsi dua sungai ini menjadi ‘saluran sampah’ dapat terjadi karena tingginya kepadatan penduduk. Data Kementerian Dalam Negeri tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di sekitar DAS Progo mencapai 3,64 juta jiwa. Sedangkan ada 2,5 juta penduduk yang mendiami daerah di sekitar DAS Opak.

Kepadatan membuat aktivitas di sekitar dari hulu ke hilir DAS Opak dan Progo semakin marak. Tekanan datang dari pengelolaan sampah yang buruk, tempat Pembuangan Sampah (TPS) terbatas, dan perilaku membuang sampah sembarangan, dan pariwisata tidak ramah lingkungan. Dua aspek yang ada di pesisir seperti aktivitas budi daya dan penangkapan ikan juga turut berkontribusi.

Sampah yang tidak terkelola dapat terbuang ke sungai. Karena itulah, dalam konteks ini, karakteristik DAS turut memengaruhi jumlah sampah yang mengalir dari sungai ke laut.

DAS Opak berbentuk bulat, lebih kecil, dan lebih pendek dibandingkan DAS Progo. Walhasil, sampah di sungai Opak lebih cepat mengalir lalu mengendap di pantai. Sampah ini belum sempat lapuk sehingga massanya cenderung lebih berat.

Tipologi pantai dan karakteristik gelombang juga turut memengaruhi proses pengendapan sampah dari laut ke pantai.

Saya mengambil contoh pantai Samas sebagai hilir dari DAS Opak, dan pantai Baru yang merupakan bagian hilir DAS Progo. Ada sejumlah alasan mengapa dua pantai ini yang dipilih. Misalnya, kedua pantai ini tidak memiliki fasilitas pengelolaan sampah dan tidak menjadi gerakan pembersihan sampah. Keduanya juga memiliki perbedaan karakteristik dan tipologi sehingga jenis dan karakter sampahnya bisa jadi berbeda.

Berdasarkan hasil analisis data dan kegiatan lapangan selama 2019 - 2022, kami menemukan berbagai macam jenis sampah di pesisir pantai Samas dan Baru. Di antaranya adalah plastik, busa plastik, kaca dan keramik, logam, karet, kertas dan kardus, kayu, dan bahan lainnya (Gambar 3).

Gambar 3. Gambaran kepadatan sampah laut di Pantai Baru dan Pantai Depok dari tahun 2019 hingga semester pertama tahun 2022 (Sumber: Mutaqin dan Hamidin, in review)

Massa sampah laut di pantai Samas lebih berat dari pantai Baru karena material pasir pantai ini lebih kasar, kemiringan lerengnya lebih curam, dan gelombang yang lebih pecah. Semua karakter itu membuat sampah dari laut cenderung lebih mengendap di perairan dibandingkan terempas ke pantai.

Temuan riset kami tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah sampah laut di pantai Baru lebih banyak daripada pantai Samas. Meskipun jumlah sampahnya lebih sedikit, sampah laut di pantai Samas lebih berat daripada pantai Baru. Hal ini disebabkan sampah berukuran makro (> 2,5 cm) lebih mendominasi pantai Samas daripada sampah meso atau menengah (0,5-2,5 cm).

Kepadatan setiap jenis sampah laut di kedua pantai ini sangat bervariasi tiap tahunnya, bisa mencapai hingga 18 potong sampah per meter persegi. Peringkat teratas jenis sampah yang banyak dijumpai selama 2019 - 2022 adalah sampah plastik.

Pengambilan data dalam riset kami (sedang dalam proses telaah) di Kulonprogo dan Gunungkidul pada 2022 dan 2023 juga menunjukkan hal yang serupa. Jenis sampah yang paling dominan adalah sampah plastik dan diduga berasal dari darat.

Sampah laut yang kami anggap berasal dari darat antara lain: busa makanan, botol, alat makan, wadah paket makanan, wadah makanan, kantong plastik, mainan, rokok, sandal, sarung tangan, karpet, dan karet gelang.

Sementara itu, sampah yang berasal dari laut antara lain: busa spons dan busa pendingin (Gambar 4).

Gambar 4. Contoh proporsi sampah laut yang ditemukan di a) Pantai Samas dan b) Pantai Baru. Di kedua lokasi tersebut, sampah laut dominan berasal dari daratan (Sumber: Isnain dan Mutaqin 2023)

Solusi mengatasi darurat sampah

Pemerintah Yogyakarta perlu melakukan banyak hal untuk membantu pencapaian target Indonesia mengurangi 70% sampah di laut pada 2025.

Untuk mengurangi volume sampah di tingkat sumber (rumah tangga), pemerintah perlu mengatur pembatasan penggunaan material yang sulit terurai seperti plastik dan styrofoam, serta pemilahan sampah. Langkah lainnya adalah pengembangan fasilitas daur ulang sampah dan limbah dengan konsep pengolahan sampah berbasis 3R (kurangi, pakai kembali, daur ulang) di tingkat terkecil seperti desa ataupun kelurahan.

Kebijakan ini perlu dibarengi program sosialisasi kondisi sampah laut di Yogyakarta dan bahayanya. Pemerintah DIY hingga desa dapat menggandeng lembaga swadaya masyarakat lokal, seperti GARDU Action di Bantul (Gambar 5), meningkatkan kualitas kegiatan pembersihan seperti Gerakan Merti Pantai, serta menggalakkan kerja bakti membersihkan/memilah sampah.

Gambar 5. Pemilahan sampah plastik oleh organisasi lokal GARDUaction di Dusun Mancingan, Kabupaten Bantul (Courtesy: Irfan Fahmi, 2019)

Otoritas dapat membuat kebijakan khusus agar lebih banyak pelaku usaha pariwisata dan juga wisatawan yang menggunakan peralatan makanan dan minuman guna ulang.

Aturan pemberian bonus dan denda bagi pelaku usaha yang menyumbang sampah padat non organik juga penting. Besarannya dapat disesuaikan dengan jumlah sampah padat non organik yang dihasilkan dari kegiatan/usaha yang dilakukan.

Pemerintah dapat membuat kebijakan khusus pemantauan sampah laut. Otoritas juga bisa bekerja sama dengan pemerintah Jawa Tengah terutama untuk pemantauan dan penanganan sampah lintas provinsi.

Penanganan sampah laut bisa juga dilakukan melalui penyediaan alat penangkap sampah otomatis di muara Sungai Opak dan Progo.

Usaha untuk mengurangi, mengelola, dan memantau sampah di Yogyakarta amat mendesak. Tanpa aksi dan kebijakan nyata, sampah laut dapat merusak lingkungan, mengancam keanekaragaman hayati, dan membahayakan kesehatan penduduk. Terganggunya fungsi ekosistem akibat sampah juga menurunkan pendapatan daerah Yogyakarta dari aktivitas pariwisata.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 184,000 academics and researchers from 4,967 institutions.

Register now