Blog

Selain mencerdaskan masyarakat, promosi sains juga bisa memperbaiki kehidupan

The Conversation Indonesia memproduksi podcast bersama KBR karena belum semua orang Indonesia terjangkau internet. CC BY-NC

Pada Senin 2 April 2018, The Conversation menggelar diskusi dan peluncuran podcast Sains Sekitar Kita di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Acara ini dihadiri sekitar 50 orang dari beragam latar belakang—akademisi, wartawan, praktisi humas, serta masyarakat umum.

Saya ingin berbagi beberapa poin penting yang mengemuka dalam diskusi itu.

Promosi sains akan menghasilkan kebijakan yang lebih baik

Acara dibuka oleh Prof Satryo Soemantri Brodjonegoro, Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (yang menjadi tuan rumah kami di Indonesia).

Dalam sambutannya, Prof Satryo menyatakan rasa senang terhadap produksi podcast Sains Sekitar Kita karena upaya promosi sains bukan saja akan mencerdaskan bangsa, tapi juga mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Beliau menyayangkan banyaknya kebijakan pemerintah yang keliru karena tidak diambil berdasarkan sains atau penelitian. Andai saja pengambilan kebijakan didasarkan pada sains, tentu hasilnya akan lain.

Satryo Brodjonegoro mengatakan bahwa kebijakan yang salah tercipta karena tidak berdasarkan penelitian.

Para ilmuwan juga manusia biasa

Poin penting selanjutnya datang dari ilmuwan muda Roby Muhamad (seorang sarjana Fisika Teori yang kemudian berkecimpung di Sosiologi, kini mengajar di Fakultas Psikologi UI). Dia membuka mata saya lebih lebar tentang sosok para ilmuwan.

Mentang-mentang mereka ilmuwan, kita ternyata tidak bisa mengharapkan mereka 24 jam berpikir secara ilmiah! “Pola pikir ilmiah itu sesuatu yang perlu dilatih terus-menerus karena itu bukan sesuatu yang natural,” kata Roby.

Jadi manfaat promosi sains tidak saja dirasakan oleh masyarakat awam, tapi juga ilmuwan.

Promosi sains lebih dari sekadar mengabarkan hasil riset terbaru

Yang tak kalah penting, Roby berharap upaya promosi sains tidak berhenti pada mengabarkan hasil riset terbaru kepada masyarakat. “Lebih dari itu, promosi sains mestinya menumbuhkan rasa keingintahuan [wonder] terhadap alam sekitar.”

Promosi atau komunikasi sains sendiri pun, menurut Roby, merupakan suatu ilmu pengetahuan tersendiri. Bukan sembarang keahlian.

Roby memberi saran kepada wartawan yang meliput isu sains: masukkan unsur manusia (human interest) dalam menulis berita. Artikel sains mungkin bisa lebih menarik dan berwarna jika human interest (Roby menyebutnya dengan istilah “drama” tidak ketinggalan.

Roby Muhamad merupakah salah seorang narasumber dalam podcast Sains Sekitar Kita. Dengarkan penjelasannya betapa algoritme menentukan pilihan kita di internet di sini.

Komunikasi sains perlu didukung secara kelembagaan

Kalau tiga poin di atas lumayan menggembirakan, poin keempat lumayan bikin miris. Irina Rafliana, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa selama ini peneliti didorong untuk menerbitkan tulisan di jurnal ilmiah mana saja, dengan insentif peningkatan angka kredit (“kum”) untuk kenaikan jenjang karier.

Tapi mereka tidak didorong untuk menyebarkan ilmu mereka ke masyarakat umum.

Irina bercerita salah seorang temannya akhirnya memutuskan pensiun dini karena tidak dapat mengejar kredit kum untuk membuatnya dipromosikan. Sebabnya, sang peneliti ini terlalu sibuk menyebarluaskan hasil risetnya ke masyarakat.

Setiap kali ia membuat penelitian ia rajin datang ke sekolah-sekolah untuk menceritakan soal penelitiannya ke anak-anak. “Dia datang dengan flipchart karena ingat itu yang dia pelajari di Jepang ketika dia sekolah,” kata Iriana. Sedih!

Ilmuwan perlu kegigihan dalam memasyarakatkan temuan

Profesor Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman adalah salah seorang ilmuwan yang meneliti asal-usul manusia Indonesia melalui DNA. Hasilnya, identitas Indonesia terbentuk melalui pembauran selama puluhan ribu tahun, sehingga tidak ada manusia Indonesia yang 100 persen pribumi.

Kita semua di sini imigran, hanya berbeda waktu kedatangan.

Herawati Sudoyo menemukan bahwa tidak ada manusia Indonesia yang 100 persen pribumi. CC BY-NC

Saya kira Prof Herawati adalah salah seorang ilmuwan yang gigih memasyarakatkan temuannya, serta tidak bosan mengulang-ulang lagi penjelasannya ketika masyarakat memang perlu diingatkan—misalnya ketika Anies Baswedan menyebut-nyebut soal pribumi dalam pidato pelantikannya sebagai Gubernur Jakarta.

Sebagai seorang ilmuwan yang menemukan bahwa tak ada manusia Indonesia yang murni pribumi, seperti apa perasaan Prof Herawati jika ada pejabat yang membawa-bawa persoalan pribumi?

“Saya kasihan,” kata Prof Hera enteng.

Dengarkan pemaparan Prof Herawati tentang DNA orang Indonesia di sini.


Podcast Sains Sekitar Kita diputar setiap Senin di KBR. Anda juga dapat mendengarkannya di website kami, iTunes, dan SoundCloud.