Menu Close

Blog

Jangan lewatkan ‘Saatnya Ilmuwan Bersuara: Pentingnya Komunikasi Sains Dalam Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti’

Warga melintas di samping patung himbauan waspada COVID-19 di Sukup Baru, Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/9/2020)
Kebutuhan akan informasi kredibel berbasis sains menjadi sangat nyata di tengah pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

Live di saluran YouTube The Conversation Indonesia, Kamis 24 September 2020, pukul 14:00-16:00 WIB. Simpan ke kalendar Anda.


Situs The Conversation Indonesia pertama kali hadir untuk publik pada 6 September 2017.

Ketika para pendiri, donor dan mitra, serta tim perintis The Conversation Indonesia pertama kali terlibat mewujudkan ide sebuah media online nirlaba yang menyajikan berita dan analisis berbasis riset dalam kolaborasi unik antara jurnalis dan ilmuwan, kami punya bayangan mengapa ide tersebut penting.

The Conversation Indonesia

Kini, di tengah serangan coronavirus yang menyebabkan pandemi, serta lambat dan kacaunya penanganan COVID-19 di Indonesia, ide tersebut sudah menjadi kenyataan. Tim The Conversation Indonesia dan jaringan penulis dari dosen dan peneliti terus bertumbuh – tepat ketika kebutuhan akan informasi kredibel berbasis sains menjadi sangat nyata.

Dalam rangka ulang tahun ketiga The Conversation Indonesia dan urgensi menggaungkan pengetahuan ilmiah ke publik luas, kami mengadakan acara diskusi pada 24 September 2020 pukul 14:00 WIB, dengan tema: “Saatnya Ilmuwan Berbicara: Pentingnya Komunikasi Sains Dalam Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti”.

Tokoh sains Indonesia Sangkot Marzuki, yang mengepalai Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sejak 1992 hingga 2014, Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (2008-2018), dan salah satu pendiri The Conversation Indonesia akan memberikan sambutan utama.

Profesor Sangkot menekuni biologi molekuler dan meneliti biogenesis dari energi dan penyakit terkait kelainan genetika. Ia akan membahas mengapa ilmuwan perlu menjangkau audiens awam.

Saya kemudian akan memandu diskusi panel bersama epidemiolog dari Eijkman Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Iqbal Elyazar, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Andalas Dian Fiantis, dan Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Adi Utarini.

Para ilmuwan ini selain melakukan penelitian juga aktif mengkomunikasikan hasil penelitian dan pengetahuan ke masyarakat awam.

Dr Iqbal adalah Kepala Program Epidemiologi Geospasial dan Peneliti Senior di EOCRU. Telah bekerja dalam riset malaria selama 22 tahun, ia fokus meneliti soal biostatistika, surveilans penyakit, epidemiologi dan estimasi beban penyakit.

Profesor Dian adalah anggota tim narasumber Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk Klinik Penulisan Artikel Ilmiah Internasional dan Nasional. Ia mengajar antara lain agrogeologi, mineralogi tanah, dan morfologi dan klasifikasi tanah.

Sementara itu, Profesor Utarini adalah penerima Habibie Award Bidang Ilmu Kedokteran 2019 atas keberhasilannya memimpin penelitian pemusnahan demam berdarah dengan nyamuk yang diinfeksi bakteri Wolbachia di Yogya.

Mereka akan bercerita manfaat dan dampak dari menyebarluaskan pengetahuan mereka ke khalayak luas.

Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang Surya Tjandra juga akan hadir dalam diskusi panel. Pakar hukum dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini akan berbagi mengenai cara komunikasi efektif ke pembuat kebijakan.

Jangan lewatkan diskusi ini. Masukkan acara ini ke dalam kalendar kegiatan Anda.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 137,400 academics and researchers from 4,214 institutions.

Register now