Menu Close
a sign marked 'restoration in progress' on a wetland
Beberapa program secara tidak langsung telah membantu mencegah emisi gas rumah kaca dan membantu masyarakat beradaptasi. Berbagai negara dunia harus mulai memperhatikan ini untuk memahami seberapa dekat kita dengan Perjanjian Paris. (Shutterstock)

COP26: Bagaimana dunia mengukur kemajuan aksi iklim Perjanjian Paris dan memastikan akuntabilitas setiap negara

Perubahan iklim adalah masalah global yang tidak mengenal batas wilayah.

Semua negara perlu bekerja sama dan mengambil langkah berani untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, serta menunjukkan tren penurunan emisi, jika benar-benar ingin memenuhi target Perjanjian Paris untuk menjaga kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 C di atas titik sebelum revolusi industri.

Untuk mencapai tujuan apa pun, kita tentu harus menentapkan target dan kemudian mengukur kemajuannya. Dalam hal iklim, proses penilaian ini disebut “pengambilan stok (stocktake) global.” Upaya stocktake yang akan dilakukan setiap lima tahun – mulai 2023 nanti – akan meninjau kemajuan kolektif yang telah dibuat berbagai negara di dunia dalam menghadapi krisis iklim.

Beberapa laporan menemukan berbagai janji yang dibuat negara terkait penanganan iklim (yang disebut Nationally Determined Contributions, atau NDC) tidak cukup ambisius untuk memenuhi target Perjanjian Paris.

Bahkan, jika janji yang kini ada tercapai pun, tidak banyak lagi yang bisa kita lakukan dengan cukup cepat untuk mengurangi emisi dan mencegah pemanasan suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius setelah tahun 2030.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Panel Antar Negara untuk Perubahan Iklim (IPCC), seorang komentator senior mengatakan bahwa hanya dengan pengurangan emisi yang kuat, cepat, dan berkelanjutan, kita dapat mencegah pemanasan global dan berbagai dampak terburuknya.

Dalam Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) di Glasgow, Skotlandia pada bulan depan, perwakilan negara akan menyelesaikan rencana global stocktake—- bagaimana negara anggota dapat mengukur dan melaporkan aksi iklim mereka -— untuk memperkuat janji iklim negara mereka sendiri.

Sampai mana kita sekarang?

Pasal 14 Perjanjian Paris sebenarnya menawarkan beberapa informasi tentang bentuk global stocktake ini. Namun, dokumenn ini gagal menyebutkan mekanisme akuntabilitas dan pelaporannya.

Ini sama halnya seperti kerja sama komunitas di suatu kebun untuk menumbuhkan tanaman pangan sehat, namun tanpa ada persetujuan yang jelas dari komunitas tersebut terkait beberapa aturan dasar – seperti bagaimana pembagian tanah, bagaimana memilih tanaman yang sesuai, dan bagaimana membuat kebun tumbuh subur.

grafik yang menunjukkan hubungan dan urutan perjanjian karbon.
Siklus per lima tahun untuk pegajuan_ Nationally Determined Contributions_ (NDC), dan bagaimana stocktake global bekerja. (Penulis, diolah dari data UNFCCC 2016), Author provided

Nah, sekitar 191 negara (190 negara plus Uni Eropa) tak menerapkan stocktake dengan tangan kosong. Dalam pertemuan COP 24 dua tahun lalu di Katowice, Polandia, mereka menyetujui tiga fase dalam upaya tersebut:

  1. Pengumpulan dan persiapan informasi.
  2. Penilaian teknis.
  3. Komunikasi dan tindakan berdasarkan temuan.

Namun, persetujuan tersebut tidak menentukan data apa yang dibutuhkan maupun dalam format apa data perlu dibentuk.

Jika pendekatan pengumpulan data tak harmonis – sehingga data yang terkumpul punn akan terfragmentasi – maka kemampuan negara untuk mengukur kemajuan stocktake akan terbatas.

Lalu, bagaimana kemajuan kita bersama dalam aksi iklim?

Beberapa negara, seperti Jerman dan Kanada, telah membuat laporan kemajuan aksi iklim. Tapi, laporan itu tidak disampaikan dalam format yang memungkinkan untuk dibandingkan satu sama lain.

Padahal perbandingan tersebut dibutuhkan untuk menggabungkan temuan, dan juga menjawab pertanyaan: Bagaimana kabar kinerja kolektif kita?

Upaya perancangan mekanisme pelaporan secara kolektif bukan hal yang baru. Ada pedoman yang telah dibentuk untuk membantu pemerintah menyusun NDC mereka, yang dimasukkan ke dalam NDC Synthesis. Dokumen ini yang menggambarkan ambisi-ambisi iklim suatu negara.

Nah, pedoman serupa untuk pelaporan aksi iklim nasional perlu dibentuk guna mendukung stocktake secara global.


Read more: Tanya-jawab : Pengaruh Amerika Serikat kembali masuk ke dalam Perjanjian Paris bagi Indonesia dan upaya pengendalian krisis iklim


Dalam upaya penurunan emisi, yang juga disebut sebagai mitigasi, salah satu cara untuk menentukan keberhasilan adalah dengan mengukur besaran pengurangan emisi yang ada. Tetapi hingga kini, kita belum tahu apakah ada metode seragam untuk mengukur upaya adaptasi berdasarkan kondisi iklim saat ini, maupun yang akan datang, beserta dampaknya.

Tujuan global dalam upaya adaptasi, seperti meningkatkan kemampuan adaptasi, memperkuat ketahanan, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim juga masih sumir, sehingga ada tantangan dalam pengukuran keberhasilannya.

Green roof, seperti yang ada di Belanda, dapat mengurangi perpindahan panas melalui atap bangunan, meningkatkan kenyamanan di dalam bangunan, serta mengurangi tekanan panas akibat gelombang panas. (Shutterstock)

Ketika pemerintah membuat keputusan tentang upaya mengatasi perubahan iklim, mereka sering mengabaikan metode dan cara mengukur kemajuan iklim.

Dalam perintah eksekutif 2021 tentang upaya AS mengatasi krisis iklim, Presiden Joe Biden hanya mencatat bahwa lembaga-lembaga akan mengembangkan “rencana aksi iklim dan pengumpulan data dan informasi untuk meningkatkan upaya adaptasi” tanpa menjelaskan bagaimana upaya evaluasinya.

Minimnya perhatian pada pengukuran aksi iklim berisiko pada pemahaman yang kurang atas kemajuannya, sehingga perancangan target iklim bisa meleset dari sasaran.

Langkah-langkah persiapan stocktake

Badan-badan PBB sering melakukan evaluasi untuk mengukur hasil program mereka.

Baru-baru ini, kami meninjau laporan evaluasi PBB yang diterbitkan dari 2014 hingga 2019 untuk menilai bagaimana perubahan iklim diperhitungkan dalam program tertentu untuk meningkatkan ketahanan pangan – ketersediaan pangan beserta aksesnya. Perubahan iklim —- termasuk peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan risiko cuaca ekstrem yang lebih besar – berdampak besar pada hasil panen dan kesehatan ternak.

Tinjauan kami memberikan wawasan tentang bagaimana program ketahanan pangan dikelola dan bagaimana hasilnya diukur dalam konteks perubahan iklim.

Kami mengidentifikasi tiga hal yang dapat dilakukan negara untuk mempersiapkan stocktake.

  1. Membangun sistem pemantauan dan evaluasi yang kuat untuk aksi iklim. Sistem data yang kredibel perlu diterapkan, dikembangkan, dan dipertahankan.

    Para spesialis dalam bidang pemantauan dan evaluasi harus mengikuti pelatihan. Pelatihan juga harus diikuti oleh para pengambil keputusan yang menggunakan informasi tersebut.

  2. Mengukur aksi iklim. Meski bukan dirancang untuk menangani perubahan iklim, beberapa program sebenarnya telah berkontribusi menciptakan hasil yang luar biasa. Studi tentang proyek pembangunan pedesaan di Maroko mencatat, meski tidak ada program khusus yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan iklim petani, upaya perlindungan air, tanah, dan tutupan vegetasi berpengaruh pada upaya ketahanan iklim.

    Kepedulian terhadap perubahan iklim mungkin tidak cukup untuk menggalang dukungan dalam pelaksanaan upaya mitigasi dan adaptasi iklim yang lebih ambisius. Mendokumentasikan berbagai manfaat tambahan terkait kesehatan, ekosistem, dan ekonomi, juga termasuk keuntungan dalam upaya kepedulian perubahan iklim, adalah cara jitu untuk meningkatkan minat orang-orang dalam melakukan aksi iklim.

  3. Mengintegrasikan langkah-langkah aksi iklim ke dalam program yang berisiko terkena dampak perubahan iklim. Ini bisa berbentuk perencanaan dampak iklim atau pelatihan ketahanan iklim. Mencari celah di mana perubahan iklim dapat memengaruhi suatu program, dapat membantu negara mengidentifikasi pintu masuk untuk memastikan upaya-upaya aksi iklim dapat berkontribusi mengurangi dampak iklim.

    Misalnya, studi di El Salvador yang fokus pada pengelolaan sumber daya alam, termasuk tutupan vegetasi dan kualitas tanah, menjelaskan bagaimana petani dapat meningkatkan praktik manajemen mereka dan bagaimana upaya adaptasi dapat mendukung tujuan ini.

Saatnya memutuskan

Pemerintah harus menyediakan sumber daya khusus untuk aksi iklim. Ini dapat membantu mendukung pengukurannya, sekaligus meningkatkan respons program terhadap perubahan iklim.

Data yang akurat pun berperan penting dalam respons iklim global.

Dalam pertemuan COP 26 mendatang di Glasgow, negara-negara akan memutuskan bagaimana proses evaluasi aksi iklim dilakukan secara kolektif. Keputusan ini sangat membantu memastikan pengumpulan dan pelaporan data yang konsisten. Ini dapat memberikan potret kemajuan global yang dapat menyatukan negara-negara dalam upaya mereka untuk mengatasi perubahan iklim.


COP 26: konferensi akbar seputar iklim di dunia

Artikel ini adalah bagian dari liputan The Conversation tentang COP 26, konferensi iklim Glasgow, oleh para ahli dari seluruh dunia.
_Di tengah gelombang berita dan cerita iklim yang meningkat, The Conversation hadir untuk menjernihkan suasana dan memastikan Anda mendapatkan informasi yang dapat dipercaya.


Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 137,400 academics and researchers from 4,214 institutions.

Register now