Curious Kids: apakah manusia bisa menjelajahi waktu?

www.shutterstock.com

Apakah penjelajahan waktu memungkinkan bagi manusia? Jasmine, 8 tahun, Canberra, Australia.


Hai, Jasmine.

Saya inginnya bisa! Dalam buku dan film, tokoh-tokoh favorit kita menggunakan “mesin waktu” untuk melakukan penjelajahan waktu.

Sayangnya, tidak semudah itu bagi orang-orang di dunia nyata; mari kita lihat alasannya.

Pertama-tama, ada dua jenis “penjelajahan waktu: ke masa lalu dan masa depan.

Di film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, tokoh Harry dan Hermione menggunakan mesin waktu untuk pergi ke masa lalu. Warner Bros. Pictures

Pergi ke masa lalu

Sejauh yang kami tahu, perjalanan waktu itu mustahil dilakukan.

Bahkan mengirimkan informasi kembali ke masa lalu sulit untuk dibayangkan, karena itu dapat mengubah hal-hal yang telah terjadi dan seharusnya tidak mungkin.

Misalnya saja kamu mengalami patah tulang di lengan ketika jatuh saat bermain, bagaimana kalau kamu bisa melakukan perjalanan waktu dan menyuruh diri kamu sendiri untuk tidak bermain?

Jika kamu berhasil, kamu tidak akan jatuh dan tidak mengalami patah tulang; tapi kemudian kamu jadi tidak punya alasan untuk kembali ke masa lalu.

Lalu bagaimana dengan lengan kamu? Apakah patah atau tidak?

Jika memikirkan hal ini membuat kamu pusing, kamu tidak sendirian.

Perjalanan waktu adalah konsep yang membingungkan bagi kebanyakan orang. Itu karena ketika kita memikirkan waktu, kita menganggapnya garis lurus dengan segala sesuatu saling berkaitan.

Kalau kita dapat melakukan perjalanan ke masa lalu dan mengubah sesuatu yang terjadi sebelumnya, kita akan mengubah urutan garis itu.

Ini berarti melanggar aturan yang disebut ”kausalitas“.

Kausalitas adalah aturan yang mengatakan "penyebab” (misalnya tindakan kamu) terjadi sebelum “akibat” (dampak dari tindakan).

Dalam contoh kita tadi, jatuh saat bermain adalah penyebab, dan patah tulang lengan adalah akibat - yang terjadi karena kamu jatuh.

Kausalitas adalah salah satu aturan alam semesta yang tidak dapat dilanggar.

Melanggar aturan ini akan memiliki dampat buruk bagi alam semesta dan kita semua.

Para ahli berpikir bahwa karena alam semesta memiliki aturan ini, maka perjalanan ke masa lalu pasti tidak mungkin dilakukan; karena jika aturan itu bisa dilanggar, maka aturan itu akan bisa dilanggar kapan saja.

Pergi ke masa depan

Jika pergi ke masa lalu mustahil, dapatkah kita pergi ke masa depan?

Secara teknis kita sudah melakukan perjalanan waktu ke masa depan, karena waktu selalu berlalu.

Setiap detik kita melakukan perjalanan ke masa depan. Tapi semua orang mengalami ini, jadi ini bukan perjalanan waktu, kan?

Percaya atau tidak, dua orang bisa merasakan waktu dengan laju yang berbeda.

Waktu berlalu secara berbeda untuk seseorang yang bergerak cepat, dibandingkan dengan seseorang yang diam. Ini adalah konsep yang sangat rumit disebut “time dilation” (pelebaran/dilatasi waktu).

Seseorang yang terbang dari Sydney ke Melbourne akan merasa waktu lebih cepat dibanding seseorang yang menunggu mereka di bandara tanpa bergerak, selagi pesawat itu di udara.

Jadi mengapa kita tidak merasakan perbedaan ini?

Ini karena kita harus bergerak jauh sekali lebih cepat dari pesawat terbang sebelum kita mulai merasakan dilatasi waktu.

Bahkan jika kita terbang mengelilingi dunia, waktu hanya akan terasa sepersejuta detik lebih cepat dibanding dengan seseorang yang tinggal di rumah.


Read more: Curious Kids: mengapa ada tujuh hari dalam seminggu?


Satu-satunya cara para ilmuwan mengetahui tentang dilatasi waktu adalah karena mereka telah mengukur lewat percobaan yang luar biasa akurat.

Sayangnya, ini masih tidak dapat membantu kita melakukan “penjelajahan waktu”.

Jika kamu terbang di keliling dunia selama lebih dari empat juta tahun, orang-orang di daratan hanya akan mengalami satu detik lebih lambat dari kamu!

Seberapa cepat kita dapat bergerak?

Jadi kalau semuanya hanya tergantung pada kecepatan, berarti jawabannya kita harus lebih cepat kan?

Jika kita bisa bergerak cukup cepat untuk waktu yang cukup lama, ratusan tahun manusia bisa berlalu begitu saja dalam perjalanan kita, yang berarti kita akan merasa seperti sedang bepergian ke masa depan!

Sayangnya, kecepatan yang dibutuhkan adalah kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, yang merupakan kecepatan paling tinggi yang bisa dicapai.

Cahaya bergerak sekitar satu miliar kilometer setiap jam - sangat, sangat cepat.

Benda buatan manusia tercepat adalah Parker Solar Probe milik NASA, sebuah pesawat ruang angkasa yang dikirim ke Matahari pada Agustus 2018.

Namun kecepatan pesawat itu hanya 0,064% dari kecepatan cahaya. Jadi cahaya lebih cepat 1.000 kali daripada pesawat itu!

Semua ini berarti bahwa kalau manusia ingin mengunjungi masa depan, kita harus menempuh jalan yang sangat panjang.

Parker Solar Probe milik NASA dapat bergerak hingga 692.000 kilometer per jam. Shutterstock

Melihat kembali ke masa lalu

Kita tidak dapat menjelajahi waktu, tapi kita bisa melihat ke masa lalu, setiap malam.

Cahaya memiliki kecepatan tetap, seperti yang baru saja kita pelajari.

Cahaya sangatlah cepat, tapi benda-benda di alam semesta begitu berjauhan sehingga cahaya masih waktu yang lama untuk menjangkau kita dari bintang dan planet yang jauh.

Ketika cahaya tiba di Bumi dari Matahari, cahaya yang kita lihat sebenarnya meninggalkan Matahari 8 menit 20 detik pada masa lalu.

Galaksi terdekat dari Bima Sakti adalah galaksi kerdil Canis Major, yang berjarak 25.000 tahun cahaya.

Ini berarti dibutuhkan 25.000 tahun untuk cahaya untuk sampai ke sini!

Ketika kita melihat galaksi ini melalui teleskop, kita sebenarnya melihat apa yang terjadi di galaksi tersebut lebih dari 25.000 tahun yang lalu.

Jadi, meski kita tidak bisa melakukan perjalanan waktu sendiri, kita dapat melihat ke langit dan melihat masa lalu setiap malam.


Read more: Curious Kids: apakah langit di planet lain berwarna biru?


Artikel ini diterjemahkan oleh Agradhira Nandi Wardhana dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,700 academics and researchers from 3,634 institutions.

Register now