Universitas Airlangga

Indonesian government established Airlangga University in Surabaya, East Java, as the first higher education institution in what considered to be eastern Indonesia at that time in 1954. Its vision is to become an independent, innovative, and leading university at national and international level as well as the pioneer of the development in science, technology, and humanities based on religious morality.

Links

Displaying 1 - 20 of 40 articles

Sekitar 90% hasil penelitian di jurnal ilmiah memiliki hasil yang positif (membuktikan hipotesis). Bias tersebut telah mendorong banyak peneliti untuk melakukan praktek-praktek yang ‘nakal’ supaya risetnya lebih mudah dipublikasikan. Shutterstock

Tiga hal yang bisa dilakukan komunitas akademik untuk mencegah peneliti ‘nakal’

Iklim penelitian yang kompetitif dan tidak sehat telah mendorong banyak peneliti untuk melakukan kebohongan supaya risetnya banyak dipublikasikan di jurnal. Bagaimana cara mematahkan tren tersebut?
Around 90% of research papers published in journals contain results that prove the hypotheses. This bias has driven scientists to commit unethical practices just to get published easier. Shutterstock

Three things the scientific community can do to filter sketchy research

Indonesia's unhealthy obsession with research output is driving scientists to commit unethical acts to produce research that are more publishable. What can the research community do to stop this?
Petugas kesehatan memvaksinasi untuk mencegah difteri di sekolah dasar di Surabaya, 2013. Imunisasi terbukti meningkatkan kekebalan tubuh penduduk dari serangan penyakit menular. Spotters/Shutterstock

Hoaks anti-vaksinasi marak, bagaimana menyusun kebijakan kesehatan berbasis kebenaran ilmiah

Kehadiran bukti empirik dalam perumusan kebijakan kesehatan tak bisa ditawar-tawar. Namun kita belum memiliki strategi yang jelas untuk melawan miskonsepsi kesehatan di Indonesia.
Perempuan korban tsunami Selat Sunda berdiri di depan rumahnya yang rusak di Kecamatan Sumur, Banten, 26 Desember 2018. Fajrul Islam/Shutterstock

Ketimpangan akses akibatkan perempuan lebih rentan saat terjadi bencana alam

Dalam perspektif gender, perempuan banyak menjadi korban dalam situasi bencana karena memiliki akses yang lebih rendah terhadap sumber daya seperti sarana toilet dan air bersih selama di pengungsian.

Research and Expert Database

Authors

More Authors